Bukan Sekadar Bikin Ngakak, Ito Mavin Sisipkan Pesan Kehidupan di Film "Piye To Kih" 

SURABAYA – Sutradara Ito Mavin menghadirkan warna berbeda dalam industri perfilman Tanah Air melalui film terbarunya, Piye To Kih. Berkolaborasi dengan Woko Channel, Ito meramu komedi, drama, dan misteri dalam sebuah cerita yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang perjalanan seseorang dalam memantaskan diri.

Film yang dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026 ini diperkenalkan kepada publik melalui acara nonton bersama dan konferensi pers di XXI Royal Plaza Surabaya, Senin (2/11/2026).

Bagi Ito, Piye To Kih bukan sekadar film komedi dengan kisah cinta yang tidak biasa. Ada realitas kehidupan yang ingin ia sampaikan melalui sosok Mukidi, seorang pria yang berusaha bangkit dari patah hati sekaligus memperbaiki kehidupannya demi mendapatkan perempuan yang diimpikan.

Judul Piye To Kih sendiri dipilih karena dianggap mewakili ungkapan spontan ketika seseorang menghadapi persoalan rumit dan situasi yang sulit diprediksi. Ungkapan tersebut sekaligus menggambarkan perjalanan Mukidi yang justru semakin jauh dari rencana awalnya.

Cerita bermula ketika Mukidi berusaha membuktikan dirinya sebagai pria mapan agar bisa meminang wanita pujaannya. Dalam perjuangannya, ia memutuskan membeli sebuah rumah murah. Namun, keputusan tersebut justru membuka pintu menuju pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Di rumah itulah Mukidi bertemu Sukma, sosok misterius dari alam lain. Pertemuan keduanya memunculkan berbagai kejadian menggelitik sekaligus persoalan yang semakin rumit. Apalagi, hubungan mereka bukan hanya terhalang perbedaan alam, tetapi juga perbedaan keyakinan.

Melalui konflik tersebut, Ito ingin mengajak penonton melihat bahwa banyak orang terkadang terlalu sibuk mengubah dirinya menjadi sosok lain demi memperoleh sesuatu yang diinginkan.

"Di era modern ini, begitu banyak orang berusaha menjadi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah memantaskan diri sendiri," ujar Ito.

Pesan itulah yang menjadi benang merah film ini. Menurut Ito, usaha memperbaiki kualitas diri jauh lebih penting daripada sekadar mengejar pengakuan atau berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.

Dari sisi produksi, film ini juga melalui proses penggarapan yang cukup panjang. Ito menjelaskan, perancangan naskah sudah dimulai sejak awal Februari 2025 dan membutuhkan waktu sekitar 3,5 hingga 4 bulan hingga mencapai bentuk cerita yang siap diproduksi.

Sementara proses pengambilan gambar berlangsung selama 20 hari pada Oktober 2026 dan resmi diselesaikan pada 29 Oktober 2026.

Kolaborasi bersama Woko Channel turut memberikan warna tersendiri dalam pengemasan cerita. Ito berupaya mempertahankan karakter komedi yang menjadi kekuatan Woko Channel, tetapi tetap membawanya dalam pendekatan cerita yang lebih universal agar dapat dinikmati berbagai lapisan penonton.

Tantangan lainnya adalah menghadirkan keseimbangan antara humor, drama percintaan, dan unsur misteri. Ketiganya dirangkai agar cerita tidak berhenti pada kelucuan semata, melainkan tetap memiliki kedalaman pesan.

Film ini dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi, Sutrisno Agung sebagai Gendut, dan Eko Dunung sebagai Penyok. Ketiganya menjadi pusat petualangan yang menghadirkan berbagai situasi kocak sekaligus tidak terduga.

Sementara itu, Dara Saraswati dipercaya memerankan Sukma, karakter misterius yang menjadi salah satu kunci konflik cerita. Dara mengaku membutuhkan persiapan khusus untuk menghidupkan sosok yang bukan manusia tersebut.

Berbeda dari karakter drama yang biasa diperankannya, Dara harus mengeksplorasi cara bernapas, berbicara, hingga gerakan tubuh yang memiliki karakteristik berbeda.

"Karakter yang aku perankan bukan manusia, jadi napas, cara bicara, dan gerakannya harus sedikit berbeda. Aku belajar selama sekitar tiga minggu, mencari referensi dan berdiskusi dengan sutradara agar hasilnya maksimal," ungkap Dara.

Sejumlah pemain lainnya juga turut memperkuat cerita, di antaranya Gabriella Desta, TJ Ruth, Devina Aureel, Marwoto, hingga Ibnu Gundul.

Bagi Ito, keberhasilan film ini bukan hanya diukur dari seberapa banyak penonton tertawa, tetapi juga sejauh mana cerita yang disajikan mampu meninggalkan kesan setelah mereka keluar dari bioskop.

Melalui perjalanan Mukidi, Gendut, dan Penyok, Piye To Kih menawarkan hiburan dengan pesan sederhana: kebahagiaan dan cinta tidak selalu bisa diraih dengan berpura-pura menjadi orang lain. Terkadang, hal terpenting justru keberanian untuk membenahi diri sendiri.

Editor : Redaksi

Berita Terbaru