Kamis, 09 Des 2021 WIB

Jaksa Agung Pertama Jadi Ikon Pusara Adhyaksa

Kamis, 25 Nov 2021 18:05 WIB
Jaksa Agung Pertama Jadi Ikon Pusara Adhyaksa

Upacara pemakaman di Taman Makam Pusara Adhyaksa, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (25/11/2021).

CIBINONG (Realita)- Makam Jaksa Agung RI Pertama, Raden Gatot Taroenamihardja menjadi ikon di Pusara Adhyaksa, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, setelah dipindah dari TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi usai memimpin upacara pemakaman di Taman Makam Pusara Adhyaksa, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (25/11/2021). 

"Saat tahun 2019, saya selaku Ketua Persatuan Jaksa Indonesia mendapat informasi, kita cek ke sana kemudian saya menghubungi keluarga yang bersangkutan untuk pemindahan, keluarga menyetujui sehingga lebih terawat, diperhatikan dan menjadi ikon pusara Adhyaksa," Ungkap Untung. 

Sementara itu, Jaksa Agung Burhanuddin dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Jaksa Agung, Setia Untung Arimuladi, mengatakan, “Marilah kita tauladani apa yang dicontohkan oleh Jaksa Agung RI yang pertama, (alm) Mr R Gatot Taroenamihardja dalam pelaksanaan tugas sehari-hari,”.

Semula makam Jaksa Agung RI yang pertama Gatot Tanumihardja berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Namun berkat inisiasi Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) yang Ketua Umumnya Setia Untung Arimuladi, makam Jaksa Agung RI yang pertama itu berhasil dipindahkan ke Taman Makam Pusara Adhyaksa yang berlokasi di Pondok Rajeg, Cibinong Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Oleh karena itu, Jaksa Agung Burhanuddin mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Pengurus Pusat Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) dalam proses pemindahan makam Jaksa Agung Gatot Tanumihardja dari Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo ke Taman Makam Pusara Adhyaksa di Cibinong secara baik dan lancar.

Dalam sambutannya, Jaksa Agung Burhanuddin mengungkapkan, Mr R Gatot Taroenamihardja merupakan Jaksa Agung RI pertama, yang mengemban tugas sebagai Jaksa Agung sebanyak 2 kali yaitu pada 1 Oktober 1945 sampai dengan 24 Oktober 1945 dan pada 1 April 1959 sampai dengan 22 September 1959.

yang lahir di Sukabumi pada 24 November 1901 ini semasa hidupnya dikenal sebagai figur yang berani, tegas, berwibawa dan gigih dalam mempertahankan serta menjunjung tinggi hukum di Indonesia.

“Bahkan, beliau tidak segan mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan integritas, dedikasi dan pendiriannya dalam menjunjung tinggi supremasi hukum terlihat dalam penanganan perkara,” kata Setia Untung Arimuladi.

Semasa hidupnya, Jaksa Agung Gatot Tanumihardja telah mengemban amanah dan mendedikasikan segenap kemampuan terbaiknya untuk membuat fondasi institusi Kejaksaan dalam menyelenggaranya penegakan hukum yang baik. Sebuah kontribusi positif yang manfaat besarnya kita rasakan nyata sekarang ini.

“Meskipun beliau sekarang sudah tidak dapat kita temui secara langsung, namun semangat, dedikasi dan keteladanan dari Jaksa Agung Mr R Gatot Taroenamihardja akan terus dapat kita rasakan hingga hari ini dan akan terus melekat di hati sanubari setiap insan Adhyaksa,” tuturnya.

Upacara pemindahan makam ini diharapkan jangan hanya diartikan sebagai sebuah kegiatan simbolis semata, tapi harus dimaknai bahwa para Adhyaksa penerus menempatkan sosok Jaksa Agung Mr R Gatot Taroenamihardja sebagai panutan dan menjadi idola setiap jaksa.

“Selain itu, kegiatan ini terkandung maksud bahwa para Adhyaksa muda tidak akan pernah melupakan senior dimana setiap insan Adhyaksa juga memiliki keterikatan bathin satu sama lain,” katanya.

Sementara itu, Pradana Ganda Subrata yang mewakili keluarga Raden Gatot Taroenamihardja mengucapkan terima kasih kepada jajaran Kejaksaan Agung atas pemindahan makam paman dari ayahnya yang bernama Purwoto Ganda Subrata.

"Kami sangat berterima kasih, beliau (Raden Gatot Taroenamihardja) memang tidak memiliki putra kandung dengan dipindahkan (makamnya) merupakan suatu kehormatan bagi kami, ini pemakaman khusus jaksa-jaksa," ujarnya.

Ia mengenang mendiang kakeknya itu merupakan pribadi yang jujur, sederhana, dan berdedikasi tinggi.

"Karena beliau memang sangat sederhana. Ini cerita dari almarhum ayah saya. Tahun 1950-an ayah saya sudah hakim, kemudian berkunjung ke rumah beliau di ruang tamu duduknya di tikar, sesederhana itu," kata Pradana.

Hadir pada upacara pemindahan makam itu Jaksa Agung Muda Pembinaan (Jambin) Kejaksaan RI, Bambang Sugeng Rukmono, Jaksa Agung Muda Pidana Militer (Jampidmil) Kejaksaan RI, Anwar Saadi, Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan RI, Amir Yanto, Sekretaris Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Sesjampidum), Yunan Harjaka, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat, Asep N Mulyana, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Cibinong, Agustian Sunaryo, Kepala Seksi Intelijen  (Kasi Intel) Kejari Cibinong, Juanda, serta para jaksa lainnya.hrd