Webinar P3S: Menuju Piala Dunia, Timnas Indonesia Butuh Naturalisasi

JAKARTA (Realita)- Demi memajukan olahraga sepak bola tanah air maka upaya yang gigih dari PSSI di bawah kepemimpinan Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan patut diapresiasi. Kegiatan webinar yang digagas oleh P3S dan esensinews.com dengan judul yang sangat fantastis yakni ” Naturalisasi PSSI: “Timnas Indoneisa Tatap Piala Dunia",  Senin (14/3/2022).

Dalam webinar yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olaharaga Jhonni Mardizal saat menyampaikan paparannya membuka, dirinya dalam banyak kegiatan pada hari itu masih menyempatkan memberikan pemaparan yang senantiasa mendukung setiap kegiatan yang terkait dengan Timnas nasional. Sekarang ini sudah ada 3 berkas naturalisasi yang sedang diproses di Kementerian.

Baca Juga: Berebut Tiket Olimpiade Paris 2024, Peringkat Timnas Guinea Jauh di Atas Indonesia

Segi fisik suatu tantangan pembenahan kemampuan fisik bagi atlet muda, naturalisasi kita belajar metode akan menjadi penting bagi pemain indonesia.

Pemain bukan individu tapi tim, pelatih memilih apakah juga gampang blended disamping nilai tranfer menjadi persoalan.

Saat menyampaikan pandanganya terkait target dan harapan sepak bola Indonesia Ketua ASPROV PSSI Sulawesi Utara Joune Ganda mengatakan, hal ini menjadi suatu perenungan, siapa tahu dengan ini memberikan dampak kualiatas.

“Prinsip mendukung jangka pendek timnas kita akan mendapat prestasi gilang gemilang,” jelas dia.

Tapi Joune menyebut agar tetap mempertimbangkan kultur dan karaktrristik yang berbeda dari pemain.

Sedangkan Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie yang juga pemerhati sepakbola mengatakan sejak lama prestasi Indonesia stagnan dan mandek lantaran beberapa faktor diantaranya segi power, skill, technique, breathing (nafas) dan postur tubuh.

Menurut Jerry yang sempat menjadi pemain sepakbola di wilayah Sulawesi Utara faktor Natitalisasi sangat dibutuhkan yang utama mereka yang bermain di Eredivisie (Belanda), La Liga (Spanyol), Liga Premiership (Inggris) atau bundesliga (Jerman).

“Ingat Belanda saja pernah memiliki pemain naturalisasi hebat seperti Ruud Gullit dan Frank Rijkard, juara dunia Prancis ada David Trezequet dan Patrick Viera, di Italia ada Mario Balloteli. Belanda juga pernah menaturalisasi pemain keturuman Indonesia yakji Giovani Van Bronchorst dan Roy Makaay.

Selain itu juga Jerry Massie juga menyoroti fisik pemain di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan sehingga bisa bermain full time dalam kondisi yang prima.

Anggota Exco PSSI Hasani Abdulgani saat tampil menjelaskan bahwa program naturalisasi yang dilakukan oleh PSSI bukan suatu proyek. Hal ini murni keinginan dari PSSI untuk jangka pendek dengan naturalisasi tersebut diharapkan bisa memberikan efek bagi kemajuan sepakbola Indonesia terutama pemain yang dinaturalisasi tersebut bisa memberikan rekomendasi bagi Klubnya untuk merekrut pemain Indonesia.

Lebih jauh, Hasani menjelaskan bahwa proses naturalisasi pemain sekelas Jordy Amat, Sandy Walsh, Shayne Pattinama sampai kiper andalan klub Lega Calceo Sampdoria Emil Audero dan Jordy Wehrmann akan membuat timnas menjadi kekuatan baru di Asia yang pantas diperhitungkan. Hal tersebut atas rekomendasi dari pelatih Shin-Tae-Yong berdasarkan kebutuhan Timnas Indonesia.

 

Dia pun memberikan kabar terbaru terkait upaya dua pemain keturunan, Emil Audero Mulyadi dan Jordy Wehrmann untuk dinaturalisasi. Dalam update-an terbaru Hasani, ia mengabarkan bahwa baik Emil dan Jordy masih dalam tahap negosiasi.

 

 

 

“Seperti yang diketahui saat ini Tim Nasional (Timnas) Indonesia sedang berupaya untuk memperkuat skuad dengan cara merekrut pemain keturunan Tanah Air yang bermain di Eropa. Tiga pemain, Sandy Walsh, Jordi Amat, dan Shyne Pattynama sudah melewati proses negosiasi dan sedang dalam pengajuan naturalisasi,”tegasnya.

 

Baca Juga: Porsenap Lapas Cilegon Terus Berlanjut

Sekali lagi Hasani Abdulgani yang menggunakan cara terbaru dengan menaturalisasi pemain di luar negeri yang mempunyai darah Indonesia. Ketiga pemain tersebut bermain di posisi lini bertahan. Mereka adalah Jordi Amat (bek tengah), Sandy Walsh (bek kanan), dan Shayne Pattynama (bek kiri).

 

“Berdasarkan, Shayne Pattynama saat ini berusia 23 tahun. Ia masih terikat kontrak dengan Viking FK hingga akhir 2023 mendatang. Pattynama bisa bermain di posisi bek kiri dan juga gelandang tengah. Viking FK adalah klub di luar Belanda yang pertama kali dibela oleh Pattynama. Pada musim 2021, Viking FK finis di posisi ketiga Liga Norwegia,” jelasnya.

Sekali lagi proses naturalisasi tersebut bukan proyek namun bisa memberikan efek bagi perkembangan talenta-talenta muda Indonesia yang bisa mengikuti jejak pemain naturalisasi untuk bermain di Liga luar negeri yang lebih profesional. Untuk jangka menangah dan jangka panjang sesuai dengan rencana sesuai dalam desain sepakbola nasional yang akan membangun Liga yang profesional dan di tiap-tiap provinsi akan ada sekolah sepakbola yang siswanya pilihan dari kabupaten di provinsi tersebut.

Sedangkan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Hayono Isman perintah Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu untuk mereview total terhadap ekosistem pembinaan olahraga nasional. Kemudian, Presiden juga meminta agar penggunaan big data, dan sport sience sebagai unsur utama di dalam pembinaan olahraga nasional.

Hayono Isman dalam akhir webinar menekankan bahwa PSSI harus menghilangkan judi dan pengaturan skor dalam sepakbola karena akan menggangu dari target kita mencapai Timnas yang mumpuni.

Sementara mantan pelatih senior Indonesia Bima Sakti sebagai pelatih Timnas U-16 yang sangat getol untuk berburu pemain di tingkat daerah.

“Alhamdulillah, pemain jebolan U-16 sekarang sudah banyak yang sudah menjadi pemain inti di klub-klub Liga 1 BRI.

Selain itu juga Bima Sakti juga bercerita bagaimana dulu dia bersaing di Liga Eropa dengan disiplin tinggi terutama dalam tepat waktu main di lapangan. Selain itu juga saat latihan di luar negeri pemain sangat serius namun lapangan sebelum latihan di mulai disiram terlebih dahulu sehingga pemain dalam latihan tidak malas terutama untuk kegiatan sliding maupun mengoper yang baik dengan pemain lainnya.

Exco PSSI Hasani Abdulgani juga menekankan bahwa proses naturalisasi sekali lagi bukan proyek, hal ini sesuai dengan keinginan pelatih dan pemain. Sukarelaan dari pemain keturunan yang dinaturalisasi hal ini tidak akan membebani dari biaya yang dikeluarkan oleh PSSI terhadap pemain yang di naturalisasi. Untuk gaji pemain yang gaji adalah pihak klub. Namun untuk bermain di timnas harus sesuai dengan agenda FIFA karena mereka tidak diijinkan oleh pihak klub.

Baca Juga: Resmi! PSSI Protes Soal Wasit Pertandingan Timnas U-23 Vs Uzbekistan

Oleh sebab itu, yang perlu dibenahi PSSI yakni jadwal liga Indonesia yang tetap. Dengan harapan ijin keramaian seperti sebuah industri, sehingga untuk keamanan di dalam lapangan akan memberdayakan potensi yang ada di sekitar stadion untuk menjaga keamanaan dalam setiap pertandingan. Sehingga Sepakbola menjadi sebuah industri sehingga akan banyak investor yang terlibat dalam industri Sepakbola.

Di satu sisi, mantan kapten Timnas Garuda Kharis Yulianto mengatakan naturalisasi merupakan hal hal yang wajar. Namun, saya nilai ada banyak yang harus dibenahi khususnya lrogram janhka pendek.

“Untuk meraih sebuah prestasi maka pemain harus berkualiras, mental dan fisik bagus dan ini kriteria pemain yang bisa direkrut timnas Indonesia,” kata Asisten pelatih Arema Malang ini.

Ditambahkannya, Shin Tae-yong sudah melihat kekurangan dan kelebihan dan kebutuhan pemain seperti apa? Semua pemain benar-benar sangat berkualitas seperti Jordy, Sandy semua defender. Coach Shin Tae-yong sudah melihat semua itu.

Sementara pengamat sepak bola tanah air M Kusnaeni mengatakan 3 faktor utama seperti: Global, trigger dan keadilan. Dilevel di usia dini masa anak muda yang potensial sebaiknya mengembangkan akademi dan piala suratin perlu terus maksimalkan.

“Prestasi ke depan lebih baik timnas jauh lebih baik, naturalisasi ini merupakan fenomena global; yang terpenting adalah hubungan dan ikatan emonsional dan itu tak bisa dihindari. Prancis pun terpapar fenomena global, Jepang pun melakukan naturalisasi juga,” tandas Kusnaeni.

Disamping itu, terang dia, tak dapat dipungkiri naturalisasi lebih bermanfaat yaitu naturalisasi atas darah dan keturunan serta prestasi.

“Trigger naturalisasi harus berprestasi. Ukuran peringkat pemain naturalisasi paling tidak di atas kita bahkan serta efek positif nilai jual yang lebih tinggi. Level value dan image perlu juga diangkat,” jelasnya.

Bung Kus pun mencontoh seperti Jordy level sekelas La Liga minimal Jordy ke atas. Dari sisi regulasi harus konsisten, kalau sepak bola diperhatikan maka dia berharap cabang olahraga yang lain juga seperti cabor volly.p3s

Editor : Redaksi

Berita Terbaru