PANTURA LAMONGAN (Realita) -Menyadari tingkat produksi tangkapan rajungan yang menurun mencapai 9 sampai 12 persen pertahun, membuat nelayan rajungan di Pantai Utara (Pantuta) Lamongan gigit jari.
Selain menurun, jarak tempuh untuk mendapatkan rajungan lebih jauh mencapai 30 sampai 37 mil laut hingga menyebabkan beban operasional meningkat.
Baca juga: Rembug Nasional Sukses Digelar, Nelayan Lamongan Harapkan Tangkapan Rajungan Semakin Meningkat
Kenyataan ini disampaikan Rosyid, seorang nelayan asal Paciran ditengah diskusi yang diadakan Forum Komunikasi Nelayan Rajungan Lamongan (FORKOM) di Taman Kuliner Paciran (TKP), Selasa, (12/8).
"Otomatis mempengaruhi pendapatan kami yang relatif sedikit," kata Rosyid.
"Kami berharap agar kondisi ini dapat kembali normal. Sehingga kami dapat memenuhi kebutuhan hidup kami," harapnya.
Baca juga: Akademisi Soal Kritik KAHMI : Perguruan Tinggi di Lamongan Masih Komitmen Pengabdian Masyarakat
Di tempat yang sama, Ketua FORKOM, Muchlisin Amar, menyampaikan penurunan produksi tangkapan rajungan sudah terasa sejak 7 tahun terakhir ini. Hingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat nelayan yang lemah.
"Sudah cukup lama. Menurut saya mungkin penyebabnya karena ekosistem yang mulai rusak, atau akibat pembangunan atau reklamasi, atau mungkin karena alat tangkap yang kurang memadahi," kata Muchlisin.
Baca juga: KAHMI Lamongan Kritik Perguruan Tinggi Soal Pemberdayaan Nelayan, Begini Tanggapan Akademisi!
Lebih lanjut, Muchlisin berharap kepada masyarakat nelayan, swasta dan seluruh stakeholder agar mau belajar merawat ekosistem laut. "Itu wajib hukumnya. Program resetocking, karantina rajungan, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan harus tetap dilakukan dan menjadi kesadaran semua nelayan dan seluruh stakeholder, agar tangkapan berkelanjutan program Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa di wujudkan sekarang dan dimasa yang akan datang. Intinya memelihara, bukan merusak laut," tuturnya.
Reporter : David Budiansyah
Editor : Redaksi