SELAMA ini ikan lele identik dengan pecel lele goreng, sementara tongkol paling banter jadi lauk sambal. Tapi di Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, dua bahan sederhana itu tampil beda: berubah wujud jadi nugget gurih yang bikin ibu-ibu di desa itu penasaran mencicipi.
Adalah Tim PKM-B FPIK UB Kelompok 12, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang membawa ide ini lewat program Sosialisasi Gizi dan Demo Masak pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Bakti Untuk Negeri (PKM-Bahari) 2026.
Baca juga: Lewat SEMAR, FPIK UB Ajak Siswa SDN Pandanajeng Belajar Memilah Sampah Sejak Dini
Misinya sederhana: mengenalkan cara olah ikan yang lebih variatif, sekaligus mendongkrak minat konsumsi ikan di masyarakat. Lele dipilih karena memang ada beberapa individu yang ternak ikan lele, sedangkan tongkol masuk daftar karena gizinya yang tinggi.
"Kami melihat bahwa mayoritas masyarakat di desa ini terbiasa mengonsumsi nugget ayam. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, tapi kami ingin memberi pemahaman kepada ibu-ibu PKK bahwa ikan juga memiliki gizi yang tidak kalah dengan ayam, ditambah ikan sendiri ada kandungan vitamin omega-3.
Selain itu, banyak anak-anak yang enggan makan ikan karena takut durinya. Dari situ kami terinspirasi mengolahnya menjadi nugget ikan yang rasanya tidak kalah lezat," ujar Aldyth Mughni Firjatullah, Koordinator Desa Kelompok 12.
Bukan tanpa alasan kedua ikan ini dijodohkan dalam satu produk. Keduanya punya "kepribadian gizi" yang berbeda. Dalam 100 gram lele, terkandung sekitar 240 kalori, 14,53 gram lemak, 8,54 gram karbohidrat, dan 17,57 gram protein. Tongkol tampil lebih ramping: 110 kalori, lemak hanya 0,92 gram, nyaris tanpa karbohidrat, tapi proteinnya justru lebih unggul, 23,87 gram. Kombinasi si gurih berlemak dan si tinggi protein inilah yang membuat keduanya layak diadu dalam satu resep nugget.
Prosesnya tak semulus kelihatannya. Lendir lele jadi tantangan pertama saat pemfiletan solusinya, lele digosok garam krosok dan didiamkan 10-15 menit sebelum dibersihkan. Bau tanah dan rasa "amis khas lele" pun diakali dengan racikan bumbu yang lebih kuat, lalu adonan dikukus sebelum digoreng.
Baca juga: Akademisi Lintas PT Diseminasikan Konsep Green Halal Energy di Masjid Kampus ITB Jatinangor
Sementara tongkol dihaluskan dan dicampur putih telur agar teksturnya tak kering, baru kemudian dibentuk jadi nugget.
Hasilnya? Dua karakter nugget yang saling melengkapi. Sejumlah ibu-ibu PKK yang turut mencicipi mengaku terkejut dengan hasilnya. Rasa nugget dinilai enak dan gurih, tanpa bau amis khas ikan yang biasanya jadi alasan mereka enggan mengolah ikan lebih jauh.
Nugget lele sendiri tampil dengan rasa gurih dan tekstur yang mirip nugget ayam pas untuk memikat anak-anak yang biasanya menghindari ikan.
Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan dan Manajemen Kualitas Air Budidaya
Sementara nugget tongkol punya tekstur lebih padat dengan aroma khas yang justru jadi nilai jual tersendiri, cocok untuk orang dewasa atau siapa pun yang suka cita rasa ikan yang lebih "berkarakter".
Bagi Tim PKM-B FPIK UB Kelompok 12, nugget ini bukan sekadar produk demo hari itu.
Harapannya, resep ini bisa dipraktikkan ulang oleh warga di dapur masing-masing, jadi rutinitas baru mengolah ikan di Desa Banjarejo sekaligus bukti bahwa bahan pangan yang kurang akrab di keseharian warga bisa disulap jadi sesuatu yang lebih menarik dan bergizi.
Editor : Redaksi