Pengamat Lihat Kemungkinan MaDa Pecah Kongsi

MADIUN (Realita) - Isu pecah kongsi pasangan Wali Kota Madiun, Maidi dan Wakil Wali Kota Madiun, Inda Raya Ayu Miko Saputri (MaDa) telah sampai di telinga pengamat politik. Potensi keduanya pisah jalan dalam Pilkada Kota Madiun 2024 pun bukan mustahil bakal benar terjadi.

Guru Besar Universitas PGRI Madiun, Prof Parji merespon kabar tersebut. Menurut dia, potensi pecah kongsi ada kemungkinan terjadi seiring dinamika politik saat ini.

Baca Juga: Ngaku Pendukung Bonie, Mengambil Formulir Bacawali Madiun ke PDIP

‘’Bisa saja tetap (berpasangan, red) atau masing-masing mengambil jalan yang berbeda. Semua kemungkinan bisa terjadi. Termasuk pecah kongsi,’’ kata Parji, Kamis (18/4/2024).

Berbicara kemungkinan, Parji menyebut ada banyak faktor yang membuat konfigurasi politik berjalan dinamis hingga muncul potensi MaDa pecah kongsi menjelang Pilkada. Di antaranya, Wakil Wali Kota ingin naik ke level Wali Kota, arah dukungan partai politik (parpol) hingga hasil kontestasi Pilpres.

‘’Isu (pecah kongsi,red) memang santer terdengar. Tapi, belum bisa dikonfirmasi secara pasti. Akan terlihat jelas menjelang pendaftaran paslon (pasangan calon) Wali Kota-Wakil Wali Kota Agustus nanti,’’ ujarnya.

Ditanya ihwal parpol di Kota Madiun yang mulai menentukan arah dukungan bagi bakal calon Wali Kota-Wakil Wali Kota, Parji menilai sosok petahana Wali Kota Maidi telah maju satu langkah. Itu seiring kabar beberapa parpol yang sudah menyatakan dukungan. Apalagi, sejumlah parpol tersebut memiliki kursi di DPRD setempat yang lebih dari cukup untuk mengantarkan petahana macung lagi dalam Pilkada nanti.

‘’Nah, nanti kita lihat saja. Apakah parpol lain akan masuk dalam kubu petahana atau masih memungkinkan mengusung paslon lain,’’ tuturnya.

Seandainya parpol di luar kubu petahana tidak memiliki kursi cukup, Parji menyebut bakal paslon masih memiliki kesempatan maju lewat jalur independen. Tentu, dengan memenuhi syarat minimal dan persebaran dukungan bakal paslon. Potensi itu bisa saja terjadi mengingat Kota Madiun memiliki historis tiga paslon independen yang macung pada Pilkada 2013 silam.

‘’Kalau tidak keliru ada enam paslon dalam Pilkada 2013 lalu. Tiga di antaranya kan independen,’’ ungkap Parji.

Baca Juga: Berburu Rekom Parpol, Mantan Wali Kota Madiun Siap Macung Pilkada

Parji menilai kabar disharmonisasi MaDa agaknya bukan menjadi faktor kuat yang membuat mereka harus pisah jalan. Menurut dia, hubungan keduanya cukup harmonis hingga menjelang akhir masa jabatan pada 29 April mendatang. Pun, tidak ada track record bahwa keduanya memiliki konflik terbuka.

‘’Sampai saat ini tidak ada konflik terbuka antara Wali Kota-Wakil Wali Kota. Semisal tidak bersama lagi pasti banyak faktor yang secara kasat mata tidak bisa diuraikan,’’ jelasnya.

Terpisah, Nunik Hariyani, pengamat politik Universitas Merdeka (Unmer) Madiun juga menyebut potensi pecah kongsi Wali Kota-Wakil Wali Kota bisa saja terjadi. Secara umum, ada banyak hal yang melatarbelakangi pecah kongsi. Mulai merasa tidak cocok hingga kekecewaan serta kecemburuan politik.

‘’Atau bisa jadi terpaksa menjadi pasangan dalam Pilkada sebelumnya karena hitung-hitungan politik,’’ ungkap dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmer Madiun itu.

Baca Juga: Maidi Jenguk Korban Aksi Kriminal Gangster di Kota Madiun

Nunik menilai pecah kongsi bakal berdampak besar pada peta kontestasi Pilkada kelak. Namun, bukan tidak mungkin juga bakal ada kejutan. Yakni, tetap berpasangan atau benar-benar pisah jalan. Itu tidak lepas dalam menakar kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan perjuangan politik.

‘’Politik itu dinamis dan kompleks. Pecah kongsi pasti berdampak besar dalam kontestasi Pilkada nanti,’’ jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan PDI Perjuangan selaku salah satu pengusung MaDa dalam Pilkada 2018 yang belum menentukan arah dukungan? Nunik meyakini setiap parpol memiliki sederet perhitungan. Termasuk enam parpol yang telah menentukan arah dukungan terhadap petahana. Sebab, dukungan parpol memengaruhi strategi positioning dan marketing politik masing-masing parpol.

‘’Peta dukungan pasti diperhitungkan demi kemenangan paslon yang diusung,’’ terang Nunik. adi

Editor : Redaksi

Berita Terbaru