JAKARTA (Realita) -Serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran telah memantik gelombang respons internasional dari berbagai negara dan organisasi. Banyak pihak menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak semua pihak untuk menahan diri demi mencegah eskalasi lebih lanjut yang bisa mengguncang stabilitas kawasan dan dunia.
Serangan udara AS yang menyasar situs Fordow, Natanz, dan Isfahan terjadi di tengah ketegangan antara Iran dan Israel. Sementara Washington menyebut tindakan ini sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir Iran, banyak negara mempertanyakan dampaknya terhadap keamanan global dan masa depan diplomasi.
Berikut tanggapan dunia internasional atas serangan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap penggunaan kekuatan militer oleh AS. Ia memperingatkan bahwa konflik ini bisa dengan cepat lepas kendali dan menyerukan semua negara anggota untuk menurunkan ketegangan.
"Tidak ada solusi militer. Satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi," tulis Guterres dalam pernyataannya di platform X.
Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan bahwa program nuklir Iran merupakan ancaman global. Ia menyerukan agar Iran kembali ke meja perundingan untuk mencapai solusi damai.
"Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir. AS telah bertindak untuk mengurangi ancaman tersebut," katanya.
Uni Eropa
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke diplomasi.
"Saya mendesak semua pihak untuk mundur, kembali ke meja perundingan, dan mencegah eskalasi lebih lanjut," ujarnya.
Irak
Pemerintah Irak mengutuk serangan AS dan menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan Timur Tengah.
"Kelanjutan serangan ini berisiko menciptakan eskalasi berbahaya yang mengancam seluruh kawasan," kata juru bicara pemerintah, Bassem al-Awadi.
Arab Saudi
Arab Saudi menyatakan "kekhawatiran mendalam" atas serangan udara AS, namun tidak mengeluarkan kecaman langsung.
"Kerajaan menekankan pentingnya menahan diri dan menghindari eskalasi," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi.
Qatar
Qatar menyayangkan meningkatnya ketegangan akibat serangan tersebut dan meminta semua pihak menahan diri.
"Masyarakat kawasan tidak dapat menanggung eskalasi baru di tengah konflik yang sudah berlangsung dan dampak kemanusiaan yang berat," kata Kementerian Luar Negeri Qatar.
Oman
Oman, yang selama ini berperan sebagai mediator nuklir Iran-AS, mengutuk serangan udara AS.
"Tindakan ini meningkatkan ketegangan dan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Oman.
Lebanon
Presiden Lebanon Joseph Aoun memperingatkan bahwa serangan AS dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
"Rakyat Lebanon sudah membayar mahal akibat konflik sebelumnya. Mereka tidak ingin membayar lebih," tegasnya.
Hamas dan Houthi
"Kami menyerukan negara-negara Muslim untuk bersatu melawan arogansi Zionis-Amerika," bunyi pernyataan biro politik Houthi.
Tiongkok
Media pemerintah Tiongkok menyebut serangan AS sebagai "titik balik yang berbahaya" dan mempertanyakan apakah AS mengulangi kesalahan invasi Irak tahun 2003.
"Sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer sering berujung pada konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan," tulis CGTN.
Jepang
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menekankan pentingnya mendinginkan ketegangan dan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun ia menolak berkomentar soal dukungan terhadap tindakan AS.
Australia
Australia, yang menutup kedutaannya di Teheran sebelum serangan, mendesak penyelesaian diplomatik.
"Kami menegaskan bahwa program nuklir dan rudal Iran adalah ancaman nyata, namun kami mendorong de-eskalasi dan dialog," kata seorang pejabat pemerintah.
Selandia Baru
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters meminta semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi. Ia menolak menyatakan dukungan atau penolakan terhadap tindakan AS.
"Diplomasi akan memberi hasil yang lebih tahan lama dibanding aksi militer," ujar Peters.rin
Editor : Redaksi