PONOROGO (Realita)- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri penutupan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-30 dan Festival Reog Remaja (FRR) di Alun-alun Kota Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (26/06/2025).
Kehadiran mantan anggota DPR-RI ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, tetapi juga sebagai apresiasi atas keberhasilan Reog Ponorogo masuk dalam daftar warisan budaya tak benda dunia UNESCO.
“Ini kali kedua saya datang ke Ponorogo. Pertama kali saya ke sini saat menjabat Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen DPR-RI. Waktu itu saya juga menyempatkan diri mengunjungi proyek Monumen Reog di Sampung, dan menyaksikan langsung Festival Reog Ponorogo yang sangat luar biasa,” ujar Fadli di hadapan ribuan warga yang memadati alun-alun.
Fadli Zon mengapresiasi antusiasme masyarakat Ponorogo terhadap Reog yang tetap tinggi dari waktu ke waktu. Ia menyebut keberhasilan Reog masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO pada Desember 2024 lalu sebagai buah dari perjuangan panjang para seniman, paguyuban, dan seluruh elemen masyarakat yang tak lelah melestarikan seni budaya khas Ponorogo tersebut.
“Prosesnya tidak mudah dan memakan waktu yang panjang. Tapi berkat kerja keras dan semangat kolektif dari para seniman serta komunitas Reog, akhirnya Reog Ponorogo mendapat pengakuan dunia,” tegas Fadli.
Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan hayati (megabiodiversity) terbesar, tetapi juga salah satu negara dengan mega diversity budaya atau keragaman budaya yang tidak tertandingi, yang tumbuh dari akar lokal hingga mendapat pengakuan global. Dimana Reog Ponorogo ini sebagai simbol nyata dari mega diversity budaya Indonesia tersebut.
“ Reog ini adalah salah satu wujud kekayaan budaya yang luar biasa. Ia berkembang dari masa ke masa, dari Reog tempo dulu hingga menjadi Reog modern melalui proses kulturalisasi yang panjang dan penuh dinamika. Inilah kekuatan Indonesia keberagaman yang hidup dan terus tumbuh,” katanya.
Penutupan festival kali ini tak hanya dihadiri masyarakat dan pemerintah daerah, tetapi juga diwarnai kehadiran para budayawan, anggota DPR-RI, kepala daerah lintas provinsi, hingga perwakilan kementerian. Fadli menyebut hal ini sebagai bukti nyata bahwa Reog bukan hanya milik Ponorogo, melainkan warisan budaya bangsa Indonesia yang dicintai lintas wilayah.
Ia menegaskan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, negara berkewajiban untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah arus globalisasi.
“Reog Ponorogo harus kita angkat ke panggung peradaban dunia. Ini adalah bagian dari kekayaan budaya kita, bagian dari mega biodiversity budaya Indonesia yang tak ternilai,” sebutnya.
Fadli Zon juga memberikan dukungannya terhadap pembangunan Museum Reog di Sampung, yang saat ini tengah digarap di bawah kepemimpinan Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Ia berharap museum tersebut bisa menjadi pusat edukasi dan literasi budaya bagi generasi muda.
“Saya kenal betul Pak Bupati Sugiri, sejak lama beliau sangat konsisten mendukung pelestarian Reog. Semoga museum ini bisa segera rampung dan menjadi etalase penting bagi warisan budaya kita,” pungkasnya. adv/znl
Editor : Redaksi