JOGJAKARTA (Realita)- Pernyataan Sofian Effendi terkait kasus ijazah Jokowi pada tayangan live streaming channel YouTube itu, turut direspons pihak UGM.
Melalui keterangan dalam situs resminya, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut, pernyataan yang bersangkutan berbeda dengan data dan bukti-bukti akademik yang dimiliki pihak Fa wakultas Kehutanan UGM.
"Kami menyayangkan pihak-pihak yang telah menggiring beliau untuk menyampaikan opini yang keliru dan tidak berdasar. Pernyataan tersebut akan berdampak hukum dan menjadi risiko bagi Bapak Sofian Effendi secara pribadi," tulis keterangan di ugm.ac.id.
UGM menegaskan, pihaknya tetap pada pernyataan yang disampaikan dalam siaran pers 15 April 2025 yang dirilis di website UGM.
Pada siaran pers itu, disebutkan bahwa Joko Widodo adalah alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
"Yang bersangkutan telah melaksanakan seluruh proses studi yang dimulai sejak tahun 1980 dengan nomor mahasiswa 80/34416/KT/1681 dan lulus pada tanggal 5 November 1985,"
UGM pun menegaskan tidak terkait konflik kepentingan antara Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) dengan Saudara Joko Widodo.
"UGM sebagai institusi publik yang melaksanakan sistem pendidikan tinggi di Indonesia terikat Peraturan Perundang-undangan mengenai perlindungan data pribadi dan Keterbukaan Informasi Publik."
"Oleh sebab itu, UGM hanya bersedia menunjukkan data yang bersifat publik sedangkan data yang bersifat pribadi hanya akan diberikan jika diminta secara resmi oleh aparat penegak hukum," terang UGM.
Sebelumnya, dalam wawancara yang ditayangkan di akun YouTube Langkah Update dan Balige Academy, Kamis (17/7/2025), itu, Sofian Effendi meyakini Jokowi tak pernah mendapat predikat sarjana atau insinyur dari UGM.
Jokowi disebutnya hanya sampai program Sarjana Muda.
Nilai Jokowi disebutnya tidak cukup, sehingga tidak lulus program Sarjana (S1).
Sofian mengaku mendapat informasi ini berdasarkan cerita yang dia dengar dari sejumlah guru besar di Fakultas Kehutanan UGM.
Ia bertanya soal polemik Jokowi ini ke sejumlah guru besar Fakultas Kehutanan, yang dulunya juga kuliah seangkatan dan ada yang beberapa tingkat di atas Jokowi.
Dari informasi yang dia dapatkan, Jokowi masuk tahun 1980, bersama kerabatnya, Hari Mulyono.
"Pada tahun 1980 masuk, ada dua orang yang masih bersaudara yang masuk (Fakultas) Kehutanan, itu satu Hari Mulyono kemudian Joko Widodo,"
Keduanya, kata Sofian, dikenal beda nasib soal prestasi akademik.
Hari Mulyono, dikenal sebagai mahasiswa yang perform (pintar) dan aktif dalam kegiatan, termasuk mendirikan komunitas mahasiswa pendaki gunung Silvagama.
Tahun 1985, Hari Mulyono lulus program sarjana.
Beda dengan Jokowi, yang kata Sofian, tidak bisa lanjut ke program sarjana.
"Tapi Jokowi ini menurut informasi dari para profesor dan mantan dekan juga, itu pada tahun 1980-an tidak lulus. Juga saya lihat di dalam transkrip nilai yang ditampilkan oleh (Polri), kan IPK-nya itu tidak sampai 2," tutur Sofian.
Ia menjelaskan, saat itu kampus-kampus Indonesia masih pakai program sarjana muda dan sarjana.
Bila di fase sarjana muda nilai tak mencukupi, maka tak bisa lanjut ke jenjang sarjana.
Itulah mengapa, nilai Jokowi itu hanya membawanya sampai program sarjana muda dengan gelar B.Sc (bachelor of science), bukan Ir atau Insinyur.
Sofian mengatakan, Jokowi kena D.O atau drop out.
"Pada waktu itu masih ada sarjana muda dan doktoral jadi dia tidak lulus, tidak qualified, di-DO istilahnya, hanya boleh sampai sarjana muda, B.sc," kata Sofian menjabat Rektor UGM tahun 2002-2007 ini.
Sofian mengatakan, benar bila Jokowi punya ijazah Sarjana Muda dari UGM.
Tapi bila ada ijazah yang menerangkan Jokowi bergelar Insinyur, maka itu adalah ijazah palsu.
Rismon lalu menanyakan, dari mana Sofian mendapat informasi itu.
Sofian menjawab, ia mendengarnya dari sejumlah profesor di Fakultas Kehutanan UGM.
"Sumber saya valid," kata Sofian.tri
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-40866-soal-pernyataan-sofian-effendi-ugm-tuding-ada-pihak-yang-menggiring