CILEGON (Realita) — Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Kota Cilegon kembali menuai kritik tajam. Sejumlah pihak menilai sistem yang diterapkan masih jauh dari prinsip transparansi dan keadilan.
Aktivis muda Kota Cilegon, Cecep ZF, menyuarakan keprihatinannya terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh oknum tertentu dalam proses seleksi.
Menurutnya, sistem yang buruk dan minim koordinasi antarinstansi membuat banyak siswa kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan secara layak.
"Koordinasi antara instansi sangat lemah. Bahkan, siswa teladan yang aktif dalam organisasi seperti KONI dan tak pernah bermasalah selama SMP bisa ditolak mentah-mentah tanpa ada uji prestasi non-akademik. Ironisnya, justru siswa yang memiliki riwayat dikeluarkan (DO) semasa SMP malah bisa diterima. Ini jelas sistem yang kacau," tegas Cecep saat ditemui di kediamannya.
Kritik tersebut memperkuat dugaan bahwa janji politik yang pernah dilontarkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Banten untuk memperbaiki sistem pendidikan, termasuk keterbukaan informasi publik, belum sepenuhnya terealisasi.
Masyarakat pun kembali menuntut agar seleksi masuk sekolah negeri dilaksanakan secara terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Ketua Panitia SPMB SMAN 1 Kota Cilegon, Ahyadi, tidak memberikan tanggapan apa pun terkait polemik ini.
Cecep menambahkan, proses penerimaan siswa baru seharusnya menjadi momentum untuk menghadirkan keadilan dan memperluas akses pendidikan, bukan justru menciptakan ketimpangan baru di kalangan pelajar.
"Pihak-pihak terkait diminta untuk segera mengevaluasi sistem yang ada dan membuka ruang dialog dengan publik demi perbaikan yang berkelanjutan," pungkas Cecep.fauzi
Editor : Redaksi