LAMONGAN (Realita) - PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk., berjanji tanggung jawab penuh atas keterlambatan sisa upah atau pembayaran kepada sejumlah mandor dan subkontraktor dalam proyek pembangunan Stadion Surajaya Lamongan.
Hal itu diungkapkan Manajer Proyek Stadion Surajaya Lamongan, Agung Prasetyo, saat memenuhi panggilan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Lamongan, yang sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan pembayaran tersebut.
"Kami secara pribadi dan mewakili PT Wika Gedung (sebutan PT. Wika Bangunan Gedung) meminta maaf atas kejadian ini," ungkap Agung saat memberikan klarifikasi di Kantor Dinas Tenaga Kerja Lamongan, Selasa (22/7/2025).
"Kami akan tetap bertanggung jawab atas semua proses yang ada di pembangunan Stadion Surajaya Lamongan," terusnya.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan sebelumnya pihak Wika Gedung telah mengundang para mandor ke Jakarta dan bertemu langsung dengan manajemen perusahaan. Dalam pertemuan itu dijelaskan mengenai kondisi yang terjadi saat ini.
"Dan disampaikan bahwa bulan Oktober mendatang akan mulai pembayaran. Kami juga ada grup WA sendiri, jadi komunikasi tetap ada," jelasnya.
Meski demikian dirinya mengaku saat ini beberapa pembayaran sudah mulai dilakukan secara bertahap, bahkan kekurangan pembayaran warung makan. "Pembayaran kepada pihak warung yang sebelumnya memiliki piutang hingga lebih dari 100 juta rupiah, sudah dicicil sekitar 100 juta rupiah. Dan ini menjadi salah satu bukti komitmen dari kami, bahwa perusahaan tidak lari dari tanggung jawab. Karena kami tahu bahwa kami di sini sudah menggunakan jasa dari para vendor, tentu menjadi satu kewajiban kami untuk bisa memenuhi hal ini," tegas Agung.
Lebih jauh ia juga mengaku jika kondisi ini tidak hanya terjadi pada proyek Stadion Surajaya, melainkan juga dialami oleh beberapa proyek lainnya yang dikerjakan PT. Wika Bangunan Gedung secara menyeluruh.
"Memang kondisi ini secara nasional, artinya dari beberapa proyek kami juga mengalami kondisi seperti ini. Saya harap para mandor bisa memahami," tambahnya.
Terpisah, Samijan, salah satu subkon pada proyek tersebut membantah soal undangan pertemuan di Jakarta beberapa pekan lalu. Tak hanya itu, dirinya juga menepis soal grup Whats'app (WA) yang disebutkan.
"Yang rapat cuma lima mandor, yang lain gak setuju. Dalam persoalan ini kalau hanya dipertemukan dengan orang Wika kayak Triogo dan Agung, percuma saja. Gak benar itu, karena groub WA mandor kantor Wika sudah di off kan, sehingga mandor-mandor gak bisa komunikasi sama orang kantor. Intinya mereka gak mau diganggu dan di chat pribadi gak mau balas," ujar Samijan.
Senada, juga disampaikan mandor Lasno, yang mengatakan sejak ada tawaran pembayaran pada bulan Oktober, sebagian mandor sudah menolak dan meminta waktu yang lebih cepat. Mengingat keterlambatan pembayaran sudah terlalu lama.
"Kita pinginya terbayarkan cepat, makanya kita ngadu. Kalau tetap dijanjikan bulan Oktober, dari awal kita gak akan mengadu," ujarnya.
Para mandor berharap bantuan Disnaker Lamongan dan pihak terkait lainnya, untuk mempertemukan pihak mandor dan PT. Wika Gedung, agar persoalan segera selesai.
Reporter : David Budiansyah
Editor : Redaksi