Korban Tewas Tragedi Runtuhnya Ponpes Al Khoziny Bertambah Jadi 13 Orang

Advertorial

SIDOARJO (Realita)- Jumlah korban jiwa akibat ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, terus bertambah. Hingga Jumat malam, 3 Oktober 2025, total 13 santri dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin sore, 29 September 2025, saat puluhan santri tengah mengikuti kegiatan mengaji di lantai dua musala. Tanpa diduga, struktur atap bangunan yang baru selesai direnovasi dua bulan lalu itu tiba-tiba roboh dan menimpa para santri yang sedang berada di bawahnya.

Tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih melakukan proses evakuasi hingga malam hari. Tumpukan puing beton dan rangka baja menyulitkan petugas dalam mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan.

“Proses evakuasi terus kami lakukan secara hati-hati karena banyak bagian bangunan yang masih labil,” kata Kepala BPBD Sidoarjo, Hadi Prasetyo.

Seluruh jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada keluarga. Dari 13 korban meninggal, delapan di antaranya masih menjalani pemeriksaan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).

Kabid Dokkes Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi M. Khusnan, menjelaskan, proses identifikasi korban dilakukan sesuai standar internasional. Terdapat tiga tahapan utama, yaitu pembacaan data di lokasi kejadian, pengumpulan data antemortem, dan rekonsiliasi.

“Pembacaan di TKP dimaksudkan untuk memastikan kondisi korban tidak rusak dan barang-barang yang melekat di tubuh korban tetap utuh,” ujar Khusnan saat ditemui di lokasi, Jumat malam.
Ia menambahkan, setiap barang bukti difoto terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam kantong berlabel untuk memudahkan proses identifikasi. “Kami berharap keluarga korban bisa segera menyerahkan dokumen pendukung ke posko DVI agar proses ini lebih cepat,” ujarnya.

Khusnan juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan ikut membantu evakuasi di area reruntuhan. “Tindakan yang tidak terkoordinasi bisa merusak tempat kejadian perkara dan menyulitkan proses investigasi maupun identifikasi korban,” kata dia.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah menyalurkan bantuan logistik dan menyiapkan posko darurat di sekitar area ponpes. Hingga kini, aparat masih menyelidiki penyebab pasti ambruknya bangunan, termasuk memeriksa kualitas konstruksi dan izin renovasi yang dilakukan pihak pesantren.yudhi

Editor : Redaksi

Berita Terbaru