SURABAYA (Realita)— Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan akan memberikan pendampingan penuh kepada korban asal Surabaya yang menjadi penyintas tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo. Salah satu korban diketahui harus menjalani amputasi tangan demi menyelamatkan nyawanya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan terhadap warganya yang menjadi korban musibah tersebut. “Terkait korban, khususnya warga Surabaya yang mengalami amputasi akibat insiden itu, pemerintah kota akan memberikan pendampingan penuh,” ujar Eri di Surabaya, Senin, (13/10/2025).
Pendampingan, kata Eri, tidak hanya sebatas pemulihan fisik. Pemkot akan fokus lebih dulu pada pemulihan psikis dan mental korban beserta keluarganya, sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
“Kami memprioritaskan pendampingan psikologis. Ini langkah awal yang sangat penting. Setelah kondisi psikis korban mulai stabil, baru kami lanjutkan ke program jangka panjang,” ujarnya.
Eri menilai kondisi korban pascaamputasi akan sangat memengaruhi masa depan dan keberlanjutan hidupnya. Karena itu, Pemkot Surabaya menyiapkan program lanjutan yang mencakup pendidikan hingga penempatan kerja agar korban tetap memiliki masa depan yang layak. “Kami akan memastikan pendidikannya tetap berjalan sampai lulus. Setelah itu, kami bantu memikirkan peluang kerja dan masa depannya,” kata Eri.
Selain pendampingan medis dan psikologis, Eri menyebut pihaknya juga akan berdiskusi langsung dengan keluarga korban untuk merancang dukungan yang sesuai kebutuhan. “Kami memahami kondisi ini sangat berat. Karena itu, kami akan duduk bersama keluarga untuk memastikan setiap langkahnya benar-benar berpihak pada pemulihan korban,” ujarnya.
Langkah Pemkot ini menjadi bagian dari komitmen Surabaya dalam menjamin keselamatan dan masa depan warganya yang terdampak tragedi Ponpes Al Khoziny. “Kami tidak ingin korban berjuang sendirian. Surabaya harus hadir sampai mereka benar-benar pulih,” kata Eri menegaskan.yudhi
Editor : Redaksi