Pak Jokowi: Sein Kanan, Belok Kiri,  Sudah Tapi Belum, Astaganaga!

WAWANCARA Jokowi dengan CNA di panggung Bloomberg kemarin adalah contoh paling jelas bahwa seseorang bisa tampak percaya diri meskipun tidak memahami apa yang ia ucapkan.

Jokowi tampil seolah sedang mengumumkan terobosan peradaban, padahal yang ia lakukan hanyalah mengulang naskah lama yang mungkin sudah diketik stafnya sejak sebulan lalu—naskah yang ia hafal seperti anak SD menghafal teks pembukaan lomba 17 Agustus. Kalimatnya itu-itu saja: prepare our people, learn AI, coding, machine learning.

Tidak ada kedalaman. Tidak ada penjelasan. Tidak ada isi. Seakan-akan kata-kata itu sendiri cukup untuk memecahkan seluruh persoalan pendidikan Indonesia.

Lebih ironis lagi adalah saat Jokowi bicara seolah bangsa ini sudah berada di ambang revolusi kecerdasan buatan. Ia menyebut “big AI revolution”, “humanoid robots”, dan ancaman masa depan, padahal di negeri asalnya, banyak siswa SMA masih tidak bisa membaca, menulis dan berhitung, dan itu bukan hiperbola—itu fakta lapangan yang tidak bisa ia sembunyikan dengan retorika futuristik.

Sementara guru-guru di sekolah masih terpaksa memberi nilai belas kasihan karena kalau nilai asli diberikan, setengah kelas bisa langsung tidak naik. Tapi Jokowi dengan wajah meyakinkan pidato seolah anak-anak Indonesia tinggal menunggu disambar wahyu kecerdasan buatan dari langit.

Ketika CNA bertanya soal tantangan masa depan global, Jokowi langsung menggeser topik ke hal-hal yang pasti aman bagi dirinya: IMF harus direformasi, Bank Dunia harus modernisasi, WTO harus perbarui aturan perdagangan. Fantastis.

Di acara internasional, Jokowi tiba-tiba berubah menjadi penasihat ekonomi global, padahal di dalam negeri ia bahkan tidak berhasil menata sistem pendidikan yang konsisten lebih dari tiga tahun. Rasanya seperti melihat seseorang yang rumahnya bocor di mana-mana tiba-tiba memberi kuliah arsitektur kepada insinyur profesional.

Wawancara itu juga mengungkap satu hal: Jokowi lebih nyaman bicara tentang dunia abstrak yang tidak menuntut detail. Begitu ia diminta menjelaskan bagaimana rakyat harus “dipersiapkan”, ia langsung lari kembali ke frase sakti: prepare our people.

Ketika diminta menjelaskan bagaimana AI bisa mengubah lapangan kerja, ia ulang lagi: prepare our people. Ketika bicara soal urgensi coding, ia kembali bilang: prepare our people.

Seakan-akan didalam otaknya hanya menyimpan satu folder, dan di dalam folder itu hanya ada satu file bernama “TEMPLATE_PIDATO_FINAL_FIX_JANGAN_EDIT.docx”. Wow..Warbiyasah.

Dan inilah yang paling kejam: Jokowi tampaknya tidak paham bahwa ketika ia membawa pidato hafalan itu ke panggung internasional, ia sebenarnya sedang mempertontonkan betapa kosongnya fondasi visi kepemimpinannya.

Karena ketika ditanya substansi, ia tidak bisa masuk ke teori, tidak bisa masuk ke data, tidak bisa menjelaskan langkah konkret, tidak bisa memaparkan metodologi.

Ia hanya bisa mengulang template yang sama persis—bahkan urutan katanya sama seperti saat ia bicara di Indonesia: perubahan cepat, teknologi, SDM harus disiapkan.

Tanpa satu pun elaborasi yang menunjukkan bahwa ia betul-betul memahami apa itu algoritma, apa itu machine learning, atau bagaimana integrasinya dalam sistem pendidikan.

Di atas panggung tersebut, Jokowi tidak lagi tampil sebagai mantan presiden. Ia tampil sebagai juru bicara hafalan yang kehilangan kemampuan berpikir spontan. Ia tidak sedang menyampaikan visi. Ia sedang menyampaikan skrip.

Dan dunia internasional mendengarnya dengan sopan karena mereka tidak tahu bagaimana kondisi pendidikan Indonesia yang sebenarnya: rapuh, timpang, dan jauh dari imajinasi futuristik sekali yang ia presentasikan.

Jika ada yang perlu “dipersiapkan” sebenarnya bukan rakyat, tetapi Jokowi sendiri, agar suatu hari ia bisa bicara tanpa harus bergantung pada template usang yang sudah ia ulang sejak periode pertama.

Sampai hari itu tiba, setiap wawancara internasional hanya akan menjadi tontonan tragikomik: seorang mantan presiden yang sibuk mempromosikan masa depan robotik, sementara realitas bangsanya sendiri masih terseok-seok di tahap dasar yang bahkan belum selesai.

Cak Bonang. Aktivis. Srawungan AKAS. Arek Kampung Suroboyo. Di WBH. Ahad/ Minggu, 23 November 2025.

Editor : Redaksi

Berita Terbaru