Kadinsos Komitmen Penanganan Sosial Individu Rentan HIV/AIDS
BEKASI (Realita)- Masih tingginya kasus baru HIV/AIDS di Indonesia (terutama pada usia produktif), tantangan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, serta kebutuhan untuk memperkuat akses terhadap pencegahan, tes dan pengobatan HIV menjadi pekerjaan rumah (PR) seluruh lapisan masyarakat khususnya Kota Bekasi.
Jelang peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember 2025, menjadi cambukan keras Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bekasi. Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi, Robert TP Siagian mengatakan dalam komitmennya untuk memperkuat penanganan sosial bagi individu yang rentan terhadap HIV/AIDS, khususnya pekerja seks komersial (PSK) yang ditemukan di tempat hiburan malam maupun lokasi rawan eksploitasi seksual.
Robert mengakui, penanganan terhadap penyintas sosial ini belum optimal. Namun kedepan, upaya pihaknya akan berkolaborasi dengan lintas sektoral akan diperkuat agar dapat dilakukan secara lebih terpadu.
“Kami di Dinas Sosial memang belum optimal dalam penanganan HIV/AIDS bagi pekerja seks komersial," ujar Robert ketika ditemui di ruangannya, Jum'at (28/11/2025).
Ke depan, kami akan berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Satpol PP, Dinas Kesehatan, serta kepolisian,” tambahnya.
Menurut Robert, Dinas Sosial dalam proses penanganan akan dilakukan melalui operasi gabungan lintas instansi, terutama jika masyarakat melaporkan indikasi praktik prostitusi terselubung di suatu wilayah.
Pelatihan Kemandirian untuk 15 Mantan PSK
Sebagai bentuk pencegahan, Dinas Sosial juga telah melaksanakan program pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan. Pada tahun 2025, kami bekerja sama dengan Yayasan GRAPIKS yang bergerak di isu-isu masalah HIV/AIDS.
"Belum lama kami memberikan pelatihan keterampilan tata busana kepada 15 orang mantan pekerja seks komersial (PSK)," terangnya.
Kami berharap dengan keterampilan yang baru, mereka bisa beralih profesi dan tidak kembali ke dunia prostitusi hanya karena alasan ekonomi,” jelasnya.
Program ini dinilai sebagai upaya yang harus dilakukan secara berkelanjutan agar penyintas sosial memiliki akses kehidupan yang lebih layak.
Kurangnya Panti Sosial di Kota Bekasi
Dinas Sosial Kota Bekasi mengakui, penanganan bagi gelandangan dan orang terlantar di Kota Bekasi masih belum maksimal karena fasilitas pendukung belum memadai.
“Kami belum memiliki panti sosial. Rumah singgah pun kapasitasnya terbatas,” bebernya.
Seringkali, orang terlantar yang telah direunifikasi dengan keluarga kembali turun ke jalan akibat faktor sosial maupun ekonomi yang belum selesai.
Prostitusi Terselubung Masih Jadi PR Bersama
Adanya praktik prostitusi berkedok rumah pijat atau spa disebut menjadi tantangan besar dalam menekan kasus HIV/AIDS.
“Ini PR semua stakeholder. Penindakan berada pada Dinas Pariwisata dan Satpol PP. Kami masuk ketika ada aspek rehabilitasi sosialnya pada individunya," ucap Robert.
Dirinya juga menegaskan, pentingnya operasi rutin, bukan hanya pada moment-moment tertentu seperti jelang Ramadhan.
Pihaknya, siap memperkuat peran serta dan mendukung program Walikota dan Wakil Walikota dalam program menekan penyebaran dan menanggulangi HIV/AIDS.
Meski porsi penanganan medis berada pada Dinas Kesehatan, Dinsos memastikan akan terus memperkuat kontribusinya melalui pendekatan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
“Upaya kolaboratif akan terus kami dorong agar angka HIV/AIDS di Kota Bekasi dapat ditekan," pungkasnya.(Ang)
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-44712-kadinsos-komitmen-penanganan-sosial-individu-rentan-hivaids