JAKARTA (Realita)— Pengamat Politik Rocky Gerung menilai Presiden ke-7 Jokowi mengalami post power syndrome.
Kondisi psikologis yang dialami seseorang setelah kehilangan jabatan, kekuasaan, atau status sosial tinggi, terutama saat pensiun.
“Fakta pertama, Presiden Jokowi pasti mengalami post power syndrome. Pasti,” kata Rocky dikutip dari YouTube Indonesia Lawyers Club, tayang pada Kamis, (29/1/2026).
Menurut Rocky, itu adalah gejala umum seseorang meninggalkan kekuasaan. Bisa dihindari dengan kembali memberi kekuasaan yang sama.
“Itu gejala umum dari mereka yang meninggalkan kekuasaan, bisa tidak post power syndrome dihindari? Bisa. Kasih dia lagi power,” ujarnya.
Walau demikian, dia menyebut kekuatan itu sulit lagi untuk didapatkan. Karena dia sudah dua kali menjadi presiden.
“Gampang aja. Tapi Pak Jokowi tahu dia tidak mungkin lagi punya power, karena udah dua periode,” ucapnya.
“Tapi orang yang punya post power syndrome, ingin kembalikan powernya, akan cari cara, untuk memperpanjang, mengeksistensi powernya itu,” imbuhnya.
Karenanya, kekuatan itu ingin dikembalikan melalui anaknya, Gibran Rakabuming. Kini menjabat Wakil Presiden RI.
“Apa yang dia lakukan? Gibran akan dirawat jadi extension of this own power,” ujarnya.
“Logis apa enggak? Bantah aja argumen saya coba. Jadi keingin Pak Jokowi adalah melanjutkan kekuasaan dia melalui turunannya,” sambung Rocky.
Jokowi mengaku siap melakukan segala upaya untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Terutama untuk kemenangan di Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Hal itu diungkapkan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI. Berlangsung di Claro Hotel, Makassar, Sulawesi Selaan (Sulsel), Sabtu (31/1/2026).
Mulanya, Jokowi mengatakan perlunya kader dan pengurus militan. Menurutnya, itu modal untuk kemenangan di 2029.
“Kita perlu jajaran pengurus yang militan,” kata Jokowi. Disambut teriakan siap oleh sejumlah kader.
Jokowi lalu menegaskan, bahwa dirinya siap bekerja keras untuk PSI. Jika para pengurus juga melakukan hal demikian.
“Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, sayapun akan bekerja keras untuk PSI,” ujar Jokowi, ditimpali dengan tepuk tangan dan riuh hadirin.
Tidak sampai di situ, Jokowi mengaku akan mati-matian dan habis-habisan. Jika pengurus dan kader PSI juga berlaku demikian.
“Saudara bekerjamati-matian untuk PSI. Sayapun bekerja mati-matian untuk PSI,” ucapnya.
“Saudara-saudara bekerja habis-habisan untuk PSI. Sayapun akan bekerja habis-habisan untuk PSI,” sambung Jokowi.
Di kesempatan itu, Jokowi menekankan perlunya struktur partai yang kuat. Tidak hanya di tataran Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), dan Dewan Pengurus Daerah (DPD).
Menurutnya, yang penting adalah pengurus di tingkatan kecamatan, desa, dan bahkan RT RW. Baginya, struktur partai yang kuat merupakan modal utama.
“Bolak-balik saya sampaikan, perkuat bangun struktur sampai ke kecamatan, sampai ke desa, sampai ke RT RW,” terang Jokowi.
Semua itu, menurutnya penting mengingat target PSI yang besar.
“Target PSI target yang besar. Targetnya tinggi, jadi mesinnya harus lebih besar. Tidak bisa hanya sampai DPD. Jadi struktur sampai desa, sampai RT RW,” ucapnya.
Jokowi mengaku siap menyambangi 38 provinsi di Indonesia. Bahkan di tingkat-tingkat kecamatan.
“Kalau diperlukan, saya pasti datang. Saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi. Saya masih sanggup datang ke kabupaten-kabupaten,” ujarnya.
“Saya masih sanggup,” tambahnya.far
Editor : Redaksi