Sabtu, 16 Okt 2021 WIB

Stok Menipis, Pupuk Susbsidi di Ponorogo Diduga Diperjualbelikan

Senin, 11 Okt 2021 07:10 WIB
Stok Menipis, Pupuk Susbsidi di Ponorogo Diduga Diperjualbelikan

Ilustrasi pupuk subsidi.

PONOROGO (Realita)- Di tengah menipisnya stok pupuk subsidi di Kabupaten Ponorogo, aksi jual beli pupuk negara ini diduga  justru marak di wilayah ini.

Hal ini tampak di sebuah grop medsos petani Ponorogo. Sejumlah petani asik menjajakan pupuk subsidi dengan harga selangit. Seperti pupuk subsidi ZA dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 85 ribu per karung menjadi Rp 160 per karung, dan Urea dari Rp 112.500 ribu per karung menjadi Rp 190 ribu per karung.

" Urea Subsidi 190 ," tulis akun @Berkah Rejeki Lancar di grub medsos tersebut. 

Sementara itu, salah satu petani Ponorogo, Gayuh Satria mengaku, aksi jual beli pupuk subsidi di Ponorogo ini bukan isapan jempol belaka. Hal ini dipicu adanya jatah berlebih pupuk subsidi pada petani, atau pun petani yang mendapat jatah pupuk subsidi justru memakai pupuk non subsidi.

" Biasanya mereka pakai sistem barter. Contohnya kalau ada sisa Urea tapi cari ZA, atau sebaliknya, maka mereka akan melihat diforum siapa yang punya. Harganya juga dipatok tinggi karena kebutuhan," ungkap petani asal Kecamatan Bungkal ini. 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Bidang Prasaran dan Sarana Pertanian (PSP) Dipertahankan Ponorogo Mahendro Akso mengatakan, stok pupuk Subsidi di Ponorogo kian menipis. Hingga akhir Desember stok pupuk subsidi tinggal 59 juta kg saja. 

Dengan rincian Urea sebanyak 8,3 juta kg, Organik 8,2 juta kg, NPK 7,2 juta kg, ZA 8,2 juta kg, dan SP-36 37 ribu kg. Jumlah ini akan ditambah dengan bantuan pupuk organik cair (POC) dari Kementrian Pertanian sebanyak 32 juta liter.

Stok ini pun diklaim kurang untuk 125 ribu petani sesuai dengan yang terdaftar dalam Sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Rekomendasi sesuai e-RDKK kebutuhan pupuk untuk satu hektar lahan pertanian sekitar satu kwintal pupuk,” ungkap Endro. 

Endro mengaku untuk mensiati kekurangan stok ini, petani diminta untuk mencampur pupuk subsidi dengan pupuk non subsidi.

" Kebiasaan petani  menggunakan pupuk mencapai 700 kilogram untuk satu hektar lahan. Untuk itu petani diminta untuk menggunakan pupuk non-subsidi atau dengan menambah pupuk organik," ungkapnya.lin