GROBOGAN (Realita) – Hangatnya suasana Lebaran tak sekadar menghadirkan senyum dan saling berjabat tangan. Di balik momen silaturahmi, tersimpan pesan mendalam tentang arti keluarga, perjuangan hidup, dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama.
Hal itu terasa dalam kebersamaan keluarga besar di Grobogan. Di tengah suasana penuh keakraban, silaturahmi bukan hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan ruang untuk saling menguatkan dan mengingatkan nilai-nilai kehidupan.
Dalam tausiahnya, Kiai Mansur mengajak seluruh keluarga untuk tidak memandang silaturahmi sebagai tradisi biasa. Menurutnya, hubungan kekeluargaan sudah ada sejak awal peradaban manusia.
“Sejarah umat manusia bermula dari Nabi Adam dan keturunannya. Dari situlah lahir konsep keluarga dan persaudaraan. Maka menjaga silaturahmi bukan sekadar kebiasaan, tapi perintah agama yang membawa keberkahan,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjaga hubungan baik dengan keluarga bukan hanya berdampak secara sosial, tetapi juga spiritual. Silaturahmi diyakini dapat menghadirkan keberkahan hidup, memperluas rezeki, hingga memberikan ketenangan batin di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Di era yang semakin individualistis, pesan tersebut terasa semakin relevan. Kesibukan sering kali membuat jarak antarkeluarga kian lebar, sehingga momen Lebaran menjadi kesempatan berharga untuk kembali merajut kedekatan yang sempat renggang.
Sementara itu, perwakilan keluarga, Arif Ardliyanto, menambahkan bahwa silaturahmi juga menjadi sarana membangun semangat hidup. Ia menekankan pentingnya sikap optimisme dan profesionalisme dalam menghadapi tantangan zaman.
“Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan, tetapi juga menguatkan semangat. Kita harus terus optimis dan menjunjung tinggi etos kerja dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Arif mengingatkan ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya bekerja secara sungguh-sungguh. “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional),” kutipnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya menuntut ilmu sebagai bagian dari perjuangan hidup. Menurutnya, ilmu menjadi bekal utama dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis.
“Hidup adalah perjuangan, dan salah satunya melalui menuntut ilmu. Siapa yang berjalan untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah,” tambahnya.
Melalui momen silaturahmi ini, keluarga besar tersebut berharap nilai-nilai keislaman tidak hanya berhenti sebagai nasihat, tetapi benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebaran pun akhirnya bukan sekadar perayaan, melainkan titik awal untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan optimisme, serta membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.
Editor : Arif Ardliyanto