Tanggapi Pernyataan Prabowo, Kanang Kritik Dampak Pelemahan Rupiah

MADIUN (Realita) - Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Budi Sulistyono, menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh angka Rp17.602 per dolar AS. Politikus yang akrab disapa Kanang itu menilai kondisi tersebut menjadi warning serius bagi perekonomian nasional.

 

Pernyataan itu disampaikan Kanang usai menghadiri pelantikan pengurus PAC PDIP Kota Madiun, Minggu (17/5/2026).

 

Menurutnya, pelemahan rupiah menunjukkan menurunnya kepercayaan global terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

 

“Ini warning ketika kepercayaan dunia global terhadap Indonesia, terhadap rupiah itu memang melemah,” ujar Kanang.

 

Ia menjelaskan, dampak kenaikan dolar tidak bisa dianggap sepele karena hingga saat ini banyak sektor industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor yang menggunakan transaksi dolar AS.

 

“Kita ini masih beli minyak, bikin pupuk, bikin plastik, semua dari bahan-bahan impor. Banyak material yang ditransaksikan menggunakan dolar. Itu yang harus dimengerti semua,” katanya.

 

Kanang menegaskan, masyarakat desa tetap akan merasakan dampak pelemahan rupiah meskipun tidak melakukan transaksi langsung menggunakan dolar. Menurutnya, kenaikan kurs akan memicu naiknya harga barang dan biaya produksi yang pada akhirnya membebani masyarakat kecil.

 

“Kalau terus-terus begini ya bahaya untuk negeri ini. Kecuali kita punya cadangan ekspor yang luar biasa sehingga ekspor bisa menghimpun devisa. Tapi sekarang dunia industri menurun, ekspor menurun, yang muncul malah impor,” ungkapnya.

 

Selain menyoroti kurs rupiah, Kanang juga menekankan pentingnya efisiensi di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna memperkuat daya tahan ekonomi nasional.

 

Sebagai anggota Komisi VI DPR RI, ia mengaku terus mendorong langkah restrukturisasi dan merger perusahaan pelat merah agar lebih efisien.

 

“Saya di Komisi VI selalu mendorong efisiensi. Katakanlah ada 1.000 BUMN dan anak perusahaan, idealnya cukup 200 sampai 300. Harus ada merger supaya efisiensi muncul,” ujarnya.

 

Ia bahkan mencontohkan struktur direksi dan komisaris di sejumlah BUMN yang dinilai terlalu gemuk dan membebani perusahaan.

 

“Tempo hari saya sampaikan tentang Bukit Asam, ada tujuh komisaris dan enam direksi. Itu enggak efisien,” tegasnya.

 

Kanang juga menanggapi pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak terdampak langsung oleh fluktuasi dolar.

 

Dalam pidatonya saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), Prabowo mengatakan, “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok.”

 

Menurut Kanang, pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun, ia menilai dampak ekonomi yang timbul akibat pelemahan rupiah tetap harus diperhitungkan secara serius.

 

“Memang benar, artinya enggak salah. Tapi dampaknya itu enggak dihitung,” katanya.

 

Ia kemudian mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang sakit yang hanya diberi obat pereda tanpa menyelesaikan sumber persoalan utamanya.

 

“Orang sakit perut terus cuma dikasih remason saja. ‘Ah kamu kan enggak pakai dolar.’ Tapi barang-barang naik. Itu ibaratnya enggak diobati,” pungkasnya. Yw

Editor : Redaksi

Berita Terbaru