DEPOK (Realita) - Sejumlah pemilik unit hunian di Saladin Mansion Apartemen, Kota Depok menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes terhadap dugaan praktik prostitusi terselubung yang disebut terjadi di lingkungan tersebut.
Selain menyoroti persoalan tersebut, para penghuni juga mendesak kejelasan penerbitan Akta Jual Beli (AJB) yang hingga kini belum mereka terima meski telah melunasi pembayaran unit sejak bertahun-tahun lalu.
Ketua Aliansi Warga Pemilik Unit Saladin Mansion Apartemen, Guswandri, mengatakan bahwa para pemilik unit selama ini hanya memegang Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).
"Prioritas tuntutan kami adalah AJB. Sudah 11 tahun kami terus dijanjikan, sementara yang kami miliki hanya PPJB," papar Guswandri, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa PPJB merupakan perjanjian awal sebelum proses jual beli selesai, sedangkan dokumen yang memberikan kepastian hak kepemilikan adalah AJB.
Menurutnya, hingga saat ini pihak pengembang, belum memenuhi kewajiban tersebut meski seluruh unit telah dibayar lunas oleh para pembeli.
"Sebanyak 1.200 unit sudah lunas. Jika rata-rata harga unit sekitar Rp150 juta, berarti ada sekitar Rp380 miliar yang sudah diterima pengembang. Namun selama 11 tahun, kewajiban mereka kepada konsumen belum juga dipenuhi," tuturnya.
Guswandri mengaku persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada Pemerintah Kota Depok maupun DPRD.
Namun hingga kini, para pemilik unit merasa belum mendapatkan solusi yang jelas.
"Kami juga belum pernah duduk bersama pihak developer untuk menyelesaikan masalah ini secara langsung," ungkapnya.
Selain masalah legalitas kepemilikan, penghuni juga mengeluhkan dugaan praktik prostitusi terselubung yang disebut memanfaatkan sistem penyewaan kamar dalam hitungan jam.
"Kami terus terang merasa resah dengan adanya dugaan praktik prostitusi ini," beber Guswandri.
Menurutnya, isu tersebut berdampak negatif terhadap citra Saladin Mansion Apartemen dan memengaruhi tingkat hunian serta minat masyarakat untuk membeli atau menyewa unit.
"Akibatnya, calon penghuni yang benar-benar ingin tinggal merasa khawatir. Banyak unit akhirnya kosong dan tingkat hunian menjadi rendah," jelasnya.
Ia menyebut para penghuni telah berulang kali melaporkan persoalan tersebut kepada pihak manajemen.
Namun, hingga kini belum terlihat langkah konkret untuk menanganinya.
Guswandri menambahkan, aktivitas yang diduga berkaitan dengan prostitusi tersebut kerap terlihat pada malam hari.
"Pemilik unit yang datang ke sini sering melihat perempuan-perempuan muda berkeliaran pada malam hari. Isu itu terus berkembang di kalangan penghuni," ucapnya.
Di tengah berlangsungnya aksi demonstrasi, petugas keamanan sempat mengamankan sepasang muda-mudi yang diduga hendak menyewa kamar apartemen.
Keduanya batal masuk ke kamar setelah keberadaan mereka menimbulkan kecurigaan peserta aksi.
Seorang perempuan berinisial Bunga (nama samaran) mengakui datang bersama kekasihnya untuk menyewa kamar selama beberapa jam.
Namun, ia membantah adanya tujuan lain selain menonton film.
"Pacar saya yang menyewa kamar. Saya tidak tahu detailnya, katanya hanya untuk menonton Netflix," bebernya.
Remaja berusia 18 tahun asal Jakarta Timur tersebut juga mengaku keberangkatannya ke apartemen tidak diketahui oleh orang tuanya.
"Ibu saya enggak tahu. Kalau tahu ya pasti marah," ujarnya.
Pernyataan itu memicu reaksi dari sejumlah penghuni yang mengikuti aksi unjuk rasa.
Mereka kemudian mempertanyakan maksud kedatangan pasangan tersebut dan menyoroti peran teman pria Bunga dalam peristiwa itu.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas akhirnya mengamankan keduanya dan meminta mereka meninggalkan lokasi.
Hingga berita ini ditulis, pihak pengelola Saladin Mansion Apartemen belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai tudingan yang disampaikan para penghuni. hry
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-48986-dugaan-prostitusi-terselubung-di-apartemen-saladin-depok-jadi-sorotan