MADIUN (Realita) – Kejuaraan Kota (Kejurkot) Panjat Tebing Kota Madiun 2026 menjadi momentum penting bagi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Madiun untuk kembali menggairahkan pembinaan sekaligus menjaring bibit atlet potensial sejak usia dini hingga kelompok junior.
Kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengukur kemampuan, memberikan pengalaman bertanding, serta memetakan potensi atlet sebagai bagian dari persiapan menghadapi berbagai kompetisi pada tahun 2027-2029.
Kejurkot Panjat Tebing Kota Madiun 2026 mempertandingkan dua kategori, yakni Lead dan Speed, dengan total 14 nomor pertandingan. Kategori Lead meliputi kelompok usia U11, U13, dan U19 putra-putri. Sedangkan kategori Speed mempertandingkan kelompok U11, U13, U19, serta U60 putra-putri.
Ketua Umum FPTI Kota Madiun, Drs. Armaya, mengatakan Kejurkot 2026 menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kegiatan panjat tebing di Kota Madiun yang sempat mengalami kevakuman.
Menurutnya, tingginya animo peserta menunjukkan bahwa olahraga panjat tebing masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama di kalangan anak-anak dan pelajar.
“Ini menjadi tolok ukur kami, FPTI Kota Madiun, untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif. Panjat tebing ini harus terus kita dorong agar masyarakat, terutama anak-anak mulai SD, SMP hingga SMA, memiliki semangat untuk bergabung dengan FPTI Kota Madiun,” ujarnya, Jum'at (22/8/2026).
Armaya menyebut jumlah peserta yang telah mendaftar mencapai 80 orang dan masih memungkinkan bertambah. Ia bahkan berharap jumlah peserta dapat menembus 100 orang.
“Animonya ternyata banyak. Sampai saat ini 80 peserta, bahkan ada informasi dari panitia masih ada tambahan. Mudah-mudahan target saya 100 peserta bisa tercapai,” katanya.
Ia menilai tingginya partisipasi tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pembinaan atlet panjat tebing di Kota Madiun.
Armaya menambahkan, FPTI Kota Madiun tidak ingin Kejurkot 2026 berhenti sebatas kompetisi. Hasil pertandingan nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat atlet-atlet yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Ini kita arahkan pada pembinaan. Ke depan, insyaallah kami akan berkoordinasi dengan Disparpora dan Pak Wali Kota. Tahun depan kami berharap bisa mengadakan Kejuaraan Piala Wali Kota untuk panjat tebing,” jelasnya.
Menurut Armaya, rencana tersebut merupakan bagian dari upaya FPTI Kota Madiun membangun kompetisi yang berkelanjutan sekaligus memberikan lebih banyak ruang bagi atlet lokal untuk mengasah kemampuan.
Terkait kemungkinan munculnya atlet yang diproyeksikan untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027, Armaya mengatakan pihaknya masih akan melakukan evaluasi terhadap hasil pertandingan.
“Nanti kita evaluasi. Kalau ada atlet yang kelihatannya bisa dibawa ke sana, nanti kita nilai. Panitia akan melaporkan kepada saya kemungkinan-kemungkinan itu,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Harian FPTI Kota Madiun, Fajar Kartiko Nugroho, mengatakan Kejurkot Panjat Tebing 2026 digelar sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pembibitan atlet setelah cukup lama tidak menggelar kompetisi di Kota Madiun.
Menurutnya, meski kompetisi sempat vakum, aktivitas latihan atlet panjat tebing di Kota Madiun tetap berjalan secara rutin. Karena itu, pihaknya ingin kembali memberikan ruang bagi atlet untuk menguji kemampuan melalui kompetisi.
“Setelah kita vakum sekian lama untuk membuat kompetisi, meskipun latihan setiap hari dan setiap minggunya tetap berjalan, ternyata animo peserta cukup tinggi. Sampai sekarang sudah ada sekitar 80 peserta yang terdaftar,” terangnya.
Fajar menjelaskan, Kejurkot 2026 mempertandingkan dua kategori utama, yakni Speed dan Lead. Kategori Speed menguji kemampuan atlet dari sisi kecepatan, sedangkan Lead lebih menitikberatkan pada kemampuan menaklukkan jalur dengan tingkat kesulitan tertentu.
“Untuk teknisnya, besok kita mempertandingkan dua kategori, yakni Speed dan Lead. Speed lebih kepada tingkat kecepatan, sedangkan Lead berkaitan dengan tingkat kesulitan,” ungkapnya.
Selain menjadi ajang kompetisi, Fajar menegaskan Kejurkot juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi atlet-atlet muda mengenai mekanisme pertandingan panjat tebing secara resmi, termasuk sistem penjurian.
“Bagaimana pelaksanaannya, bagaimana sistem penjurian dan lain sebagainya, insyaallah besok akan kita sampaikan kepada seluruh peserta. Jadi, selain berkompetisi, ini sekaligus menjadi pembelajaran dan mengenalkan bagaimana kompetisi yang sesungguhnya,” imbuhnya.
Fajar juga menambahkan bahwa hasil Kejurkot 2026 nantinya akan menjadi bahan evaluasi FPTI Kota Madiun dalam menentukan atlet-atlet yang berpotensi untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
Pihaknya berencana membentuk pusat pelatihan sebagai wadah pembinaan atlet hasil Kejurkot. Atlet yang dinilai memiliki potensi akan dipersiapkan untuk menghadapi Porprov Jawa Timur maupun berbagai kejuaraan lainnya di tingkat daerah.
“Dari hasil Kejurkot ini akan kita evaluasi. Kami akan membuat semacam pusat pelatihan, sehingga atlet-atlet hasil kejuaraan ini nantinya bisa masuk dalam program pembinaan dan diproyeksikan untuk Porprov maupun kejuaraan-kejuaraan lain di tingkat daerah,” ujarnya.
Terkait kelompok umur, Fajar menyebut peserta utama Kejurkot berasal dari kelompok usia muda hingga junior. Selain itu, FPTI Kota Madiun juga menggelar nomor eksibisi bagi peserta berusia di atas 50 tahun.
“Untuk kelompok umur yang kita pertandingkan mulai usia 9 tahun sampai 19 tahun. Kemudian ada eksibisi untuk usia di atas 50 tahun. Kebetulan teman-teman dari luar Madiun, termasuk para mantan atlet, berkumpul dan kita buat eksibisi,” tandasnya. Yw
Editor : Redaksi