SERDANG, MALAYSIA – Perkembangan industri pangan global menuntut inovasi yang tidak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga aman, berkualitas, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan konsumen.
Membuka peluang pengembangan inovasi tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) memperkuat jejaring internasional dengan Faculty of Food Science and Technology (FSTM), Universiti Putra Malaysia (UPM) melalui Match-Making Program, Jumat (7/8/2026).
Mengusung tema “Strengthening Academic and Research Collaboration in Food Science and Fisheries Product Technology,” pertemuan ini mempertemukan kepakaran di bidang ilmu dan teknologi pangan UPM dengan teknologi hasil perikanan yang dikembangkan FPIK UB.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang riset hingga inovasi produk yang relevan dengan perkembangan industri pangan dan perikanan global.
Delegasi FPIK UB terdiri atas Prof. Dr. Ir. Happy Nursyam, M.S., Dr. Ir. Yahya, M.P., Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc., Ph.D., dan Assoc. Prof. Dr. Nurul Huda.
Delegasi diterima oleh Assoc. Prof. Dr. Ismail Fitry Mohammad Rashedi, Head of Department of Food Technology, Faculty of Food Science and Technology UPM.
Pertemuan diawali dengan pengenalan Department of Food Technology UPM, mulai dari bidang kepakaran, aktivitas akademik, hingga fasilitas dan potensi penelitian yang dapat dikembangkan bersama.
Dari pemetaan tersebut, kedua institusi menemukan sejumlah bidang yang memiliki peluang kuat untuk dikolaborasikan.
Pembahasan mencakup food science, teknologi pengolahan pangan, teknologi hasil perikanan, mikrobiologi pangan, keamanan dan mutu pangan, pengembangan produk, pangan fungsional, teknologi kemasan, hingga pemanfaatan hasil samping industri perikanan secara berkelanjutan.
Pertemuan tersebut menjadi penting karena produk perikanan tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas segar atau bahan pangan konvensional. Perkembangan teknologi memungkinkan sumber daya perikanan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk pangan fungsional dan produk inovatif lainnya, sementara hasil samping pengolahan berpotensi dimanfaatkan kembali untuk mengurangi limbah sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Selain riset dan inovasi produk, kedua institusi membahas berbagai skema internasionalisasi akademik yang dapat menjadi tindak lanjut kolaborasi.
Sejumlah peluang yang dijajaki meliputi UB STARS, Adjunct Professor, Visiting Lecturer, International Research Collaboration, hingga Collaborative Online International Learning (COIL).
Melalui skema tersebut, kolaborasi tidak hanya diarahkan pada dosen dan peneliti, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pembelajaran internasional.
Melalui COIL, misalnya, mahasiswa dari kedua universitas berpeluang berada dalam satu ruang pembelajaran kolaboratif meskipun berasal dari negara berbeda, sekaligus mengembangkan kompetensi komunikasi dan kerja sama lintas budaya.
Delegasi FPIK UB juga mengunjungi sejumlah teaching laboratory di Faculty of Food Science and Technology UPM. Salah satu teknologi yang diamati adalah High Pressure Processing (HPP), metode pengolahan pangan yang memanfaatkan tekanan tinggi dalam proses produksi.
Kunjungan juga mencakup fasilitas produksi jus serta pengolahan produk berbasis daging dan seafood.
Kunjungan fasilitas tersebut memberikan gambaran mengenai integrasi antara pembelajaran praktis, teknologi pengolahan pangan modern, dan kegiatan penelitian.
Praktik tersebut sekaligus menjadi salah satu referensi dalam pengembangan pendidikan yang semakin dekat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Prof. Dr. Ir. Happy Nursyam, M.S. menilai pertemuan tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas karena kepakaran kedua institusi dapat saling melengkapi.
“Kolaborasi dengan Faculty of Food Science and Technology UPM sangat strategis karena kepakaran kedua institusi saling melengkapi. Kami berharap tindak lanjutnya tidak hanya berupa riset dan publikasi bersama, tetapi juga melibatkan mahasiswa melalui COIL, Visiting Lecturer, serta berbagai skema mobilitas dan kolaborasi internasional lainnya,” ujar Prof. Happy.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Ismail Fitry Mohammad Rashedi menyambut positif peluang pengembangan kerja sama antara UPM dan Universitas Brawijaya.
“Kami melihat banyak peluang untuk mengintegrasikan keunggulan di bidang food science dan food processing dengan fisheries product technology yang dikembangkan Universitas Brawijaya. Kami berharap kunjungan ini menjadi fondasi bagi kolaborasi akademik dan penelitian yang produktif serta berkelanjutan antara UPM dan UB,” kata Ismail.
Melalui Match-Making Program, FPIK UB dan UPM selanjutnya diharapkan dapat menerjemahkan kesamaan kepakaran tersebut menjadi agenda konkret, mulai dari penelitian dan publikasi bersama, pertukaran kepakaran, pembelajaran internasional, mobilitas akademik, hingga pengembangan inovasi pangan dan produk hasil perikanan yang memiliki nilai tambah dan relevan dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan upaya FPIK UB memperluas jejaring akademik internasional dengan menghubungkan keilmuan perikanan dengan perkembangan food science dan teknologi pangan global. Integrasi kedua bidang tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya riset dan inovasi yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga berpotensi menghasilkan solusi bagi keamanan pangan, pemanfaatan sumber daya secara efisien, serta peningkatan nilai ekonomi produk perikanan.
Upaya tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan pangan yang aman, bergizi, dan bernilai tambah; SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran dan pertukaran akademik internasional; SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan teknologi pengolahan pangan; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan hasil samping perikanan dan pendekatan produksi berkelanjutan; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi internasional antara Universitas Brawijaya dan Universiti Putra Malaysia.
Editor : Redaksi