SURABAYA (Realita)- Chef Arnold Poernomo kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan sejumlah kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui akun Threads miliknya, Arnold mengungkapkan berbagai persoalan yang menurutnya perlu segera dibenahi oleh Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari sistem pengelolaan dapur hingga bahan makanan yang terbuang.
Meski mendukung tujuan program MBG, Arnold menilai pelaksanaannya di lapangan masih jauh dari harapan. Berikut lima kritik yang disampaikan Chef Arnold terhadap program tersebut.
1. Sistem MBG Dinilai Belum Matang
Arnold menilai skema pelaksanaan MBG belum sepenuhnya siap ketika diterapkan secara besar-besaran. Ia mengibaratkan program tersebut seperti bisnis restoran yang belum memiliki sistem matang, tetapi sudah dipaksakan untuk membuka banyak cabang sekaligus.
Menurutnya, kesiapan operasional, standar kerja, dan pengawasan perlu dibangun terlebih dahulu agar kualitas makanan tetap terjaga di setiap dapur.
2. Prioritas Anggaran Perlu Dievaluasi
Chef Arnold juga menyoroti penggunaan anggaran BGN. Ia mempertanyakan prioritas pengadaan sejumlah fasilitas, termasuk motor listrik dan televisi pintar, ketika menurutnya masih ada kebutuhan mendasar dalam pengelolaan dapur yang harus diperhatikan.
Ia sebelumnya menyarankan pemanfaatan teknologi untuk membantu pengaturan komposisi gizi, proses memasak, pemantauan harga bahan pangan, hingga pengawasan melalui kamera CCTV.
3. Bahan Makanan Segar Terbuang
Salah satu hal yang paling disesalkan Arnold adalah pemborosan bahan makanan atau food waste. Ia mengaku pernah turun langsung ke lapangan dan menemukan bahan pangan yang masih segar justru berakhir menjadi sampah.
Arnold menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena anggaran program berasal dari uang pajak masyarakat. Ia juga mendorong adanya data yang transparan mengenai jumlah makanan yang benar-benar dikonsumsi penerima manfaat dan yang akhirnya terbuang.
4. Pengelolaan Dapur Berisiko Lebih Berorientasi pada Keuntungan
Arnold turut mengkritik pola pengelolaan dapur MBG yang menurut pandangannya berpotensi lebih mengutamakan keuntungan bisnis daripada kualitas makanan dan kebutuhan anak-anak.
Ia menyoroti persoalan pengembalian modal bagi investor serta pentingnya pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Menurut Arnold, keberhasilan program seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah dapur yang dibangun atau makanan yang diproduksi, tetapi juga dari kualitas dan manfaat yang diterima anak-anak.
5. Pengawasan, SDM, dan Standar Operasional Harus Diperbaiki
Kritik lainnya berkaitan dengan kesiapan sumber daya manusia, kelengkapan peralatan, serta penerapan standar operasional prosedur atau SOP. Arnold menilai perekrutan banyak pekerja saja tidak cukup apabila tidak disertai keterampilan, pelatihan, dan pembagian tugas yang sesuai.
Ia juga mengusulkan agar pengelolaan MBG lebih terpusat sehingga pengawasan, pengendalian harga bahan pangan, dan penerapan standar kualitas dapat dilakukan secara lebih konsisten.
Bagi Arnold, gagasan menyediakan makanan bergizi gratis bagi masyarakat merupakan hal yang baik. Namun, pelaksanaannya membutuhkan perencanaan matang, pengawasan ketat, serta evaluasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.sua
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-51864-chef-arnold-kritik-mbg-standar-operasional-harus-diperbaiki