Magister Budidaya Perairan FPIK UB Dampingi Pembudidaya Lele Terapkan Eco-Aquaculture untuk Jaga Kelestarian Sungai

realita.co
Pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Program Pemberdayaan Pembudidaya Lele Berbasis Eco-Aquaculture

MALANG – Program Studi Magister Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Program Pemberdayaan Pembudidaya Lele Berbasis Eco-Aquaculture dalam Mendukung Pelestarian Lingkungan Sungai di Kelompok Penggiat Lingkungan dan Pembudidaya Ikan Lorong Ijo Pakem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang” pada 10 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pembudidaya dalam menerapkan sistem budidaya yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan.

Kegiatan yang melibatkan kelompok pembudidaya dan penggiat lingkungan Lorong Ijo Pakem tersebut menjadi bagian dari komitmen FPIK UB dalam mengimplementasikan hasil riset dan keilmuan kepada masyarakat. Melalui pendekatan eco-aquaculture, para pembudidaya didorong untuk tidak hanya meningkatkan produksi ikan lele, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan perairan yang menjadi penopang utama usaha budidaya.

Baca juga: FPIK UB Tambah Dua Guru Besar Baru, Perkuat Riset Pencemaran Laut dan Teknologi Kelautan Berbasis AI 

Ketua Kelompok Penggiat Lingkungan dan Pembudidaya Ikan Lorong Ijo Pakem, Nursalim, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai pendampingan dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan dalam usaha budidaya.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan solusi terhadap berbagai kendala yang selama ini dihadapi pembudidaya, sekaligus membantu kami menjaga lingkungan sungai agar tetap lestari,” ujarnya.

Pada sesi utama, Ketua Tim Pengabdian, Dr. Yunita Maimunah, S.Pi., M.Sc., menyampaikan materi mengenai penerapan eco-aquaculture pada budidaya lele. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan.

“Budidaya yang berkelanjutan harus mampu menghasilkan keuntungan ekonomi tanpa mengorbankan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan benih, kepadatan tebar, pemberian pakan, dan pengendalian limbah perlu dilakukan secara tepat,” jelas Dr. Yunita.

Baca juga: FPIK UB dan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jalin Kerja Sama Penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Asus Maizar Suryanto Hertika, S.Pi., M.P., yang membahas pentingnya manajemen kualitas air dalam budidaya lele. Menurutnya, kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan kesehatan ikan.

“Pemantauan parameter seperti suhu, pH, dan oksigen terlarut perlu dilakukan secara rutin agar kondisi kolam tetap optimal dan mendukung produktivitas budidaya,” ungkapnya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan tingginya partisipasi peserta. Berbagai persoalan teknis yang sering dihadapi pembudidaya, mulai dari pengelolaan pakan, kepadatan tebar, hingga kualitas air, menjadi topik utama dalam sesi diskusi dan tanya jawab.

Baca juga: FPIK UB Siap Ikuti Penilaian Lapang K3L Tingkat Universitas untuk Perkuat Budaya Kerja Aman dan Berkelanjutan

Setelah pemaparan materi, tim pengabdian melakukan kunjungan lapang ke lokasi budidaya lele milik Kelompok Lorong Ijo Pakem. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kondisi aktual di lapangan sekaligus memberikan rekomendasi teknis yang sesuai dengan kebutuhan pembudidaya. Melalui observasi langsung, peserta memperoleh masukan terkait pengelolaan kolam, efisiensi penggunaan pakan, serta strategi menjaga kualitas air untuk mendukung pertumbuhan ikan secara optimal.

Tim pengabdian yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dr. Yunita Maimunah, S.Pi., M.Sc., Dr. Asus Maizar Suryanto Hertika, S.Pi., M.P., Prof. Dr. Ir. Muhammad Musa, M.S., Prof. Ir. Yenny Risjani, DEA., Ph.D., serta Febriyani Eka Supriatin, S.Si., M.Si.

Melalui program ini, FPIK UB berharap masyarakat dapat menerapkan praktik budidaya lele yang lebih berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pembudidaya tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 14 (Ekosistem Perairan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengembangan akuakultur yang berkelanjutan.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru