Rabu, 10 Agu 2022 WIB

Kenapa Cuma Karyawan Holywings yang Ditahan?

Selasa, 28 Jun 2022 13:35 WIB
Kenapa Cuma Karyawan Holywings yang Ditahan?

Holywings di Jakarta resmi disegel, Selasa (28/6/2022).

JAKARTA- Ustaz Felix Siauw turut bersuara soal polemik kasus Holywings baru-baru ini. Diketahui Holywings Indonesia menggunakan unsur agama dalam promosi minuman alkohol mereka.

Kata Felix Siauw, hal yang dilakukan manajemen Holywings penuh dengan unsur kesengajaan mamakai nama Muhammad dan Maria dalam unggahan konten media sosial mereka.

“Mengenai Holywings promosi alkohol yang mengaitkan nama Nabi Muhammad dengan Maria, setidaknya kita ketahui bukan ketidak sengajaan, ini promosi terstruktur karena mereka ingin ambil kontroversi hingga viral,” kata Felix Siauw, Selasa (28/6/2022).

Menurut Felix Siauw, ini adalah cara promosi yang dilakukan Holywings dengan tujuan agar klub malam ini menjadi viral.

“Karena dalam diksi dan promosi ini mereka pengen banget mengambil kontroversi makanya disandingkan antara satu hal berseberangan dengan yang lain supaya menghasilkan hal yang viral. Contoh minuman keras disandingkan dengan tokoh religius, tentu saja dalam Islam Nabi Muhammad, dalam Kristen Maria,” jelasnya.

Ia juga heran kenapa kesalahan soal promosi Holywings itu hanya dibebankan kepada karyawannya saja. Kata dia, konten unggahan gambar minuman alkohol memakai nama Muhammad dan Maria sudah pasti disetujui oleh manajemen teratas perusahaan sebelum diunggah ke media sosial.

“Promosinya ini promosi yang dibuat terencana. Perkara tidak dilihat atasannya, ya kenapa tidak dilihat, ini sudah garis perusahaan. Promosi itu harus sesuai dengan garis, kalau di marketing tidak mungkin menerbitkan satu brand, satu warna kecuali sesuai dengan visi misi dengan brand yang dibangun perusahaan,” tutur Ustaz Felix Siauw.

Lebih lanjut, Ustaz Felix Siauw juga menyoroti kasus penistaan agama yang belakangan sering terjadi di Indonesia namun belum mendapatkan hukuman yang bisa membuat para pelakunya jera.

Kata dia, Ketika umat Islam menyuarakan pendapatnya terkait penistaan agama, maka akan timbul persepsi Islam radikal.

“Ketika bersuara atau bereaksi dianggap dibilang radikal dan penuh kekerasan,” ungkap Felix Siauw.su