Terkait Paten AI, Google Diwajibkan Bayar Rp 2,6 Triliun

WASHINGTON- Google telah mencapai babak penyelesaian dalam gugatan pelanggaran paten atas chip yang menggerakkan teknologi AI perusahaan.

Penyelesaian ini dilakukan bertepatan saat argumen penutup dijadwalkan dalam persidangan gugatan Singular Computing. Gugatan tersebut meminta ganti rugi sebesar US$1,67 miliar (Rp 2,6 triliun) atas dugaan penyalahgunaan inovasi pemrosesan komputer oleh Google.

Baca Juga: Berkat AI, "Jokowi" Fasih Bahasa Mandarin

Perwakilan Google dan Singular mengonfirmasi penyelesaian tersebut, tetapi tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai detilnya, demikian dikutip dari Reuters, kemarin.

Juru bicara Google Jose Castaneda mengatakan bahwa perusahaannya tidak melanggar hak paten Singular dan pihaknya senang telah menyelesaikan masalah ini.

Singular, yang didirikan oleh ilmuwan komputer Joseph Bates yang berbasis di Massachusetts, mengklaim bahwa Google memasukkan teknologinya ke dalam unit pemrosesan yang mendukung fitur AI di Google Search, Gmail, Google Translate, dan layanan Google lainnya.


Gugatan yang dilayangkan tahun 2019 itu mengatakan bahwa Bates membagikan penemuannya dengan perusahaan tersebut antara tahun 2010 dan 2014. Gugatan tersebut menyatakan bahwa Unit Pemrosesan Tensor Google meniru teknologi Bates dan melanggar dua paten.

Google memperkenalkan unit ini pada tahun 2016 untuk mendukung AI yang digunakan untuk pengenalan suara, pembuatan konten, rekomendasi iklan, dan fungsi lainnya. Singular mengatakan unit versi 2 dan 3 yang diperkenalkan pada 2017 dan 2018 melanggar hak patennya.

Email internal yang dikutip dalam pernyataan pembukaan persidangan pada 9 Januari menunjukkan bahwa kepala ilmuwan Google, Jeff Dean, menulis kepada orang lain tentang bagaimana ide Bates bisa cocok untuk apa yang sedang dikembangkan Google.

Google membalas dengan mengatakan bahwa karyawan yang merancang chipnya tidak pernah bertemu Bates dan membuatnya secara mandiri. Perusahaan mengatakan teknologinya secara fundamental berbeda dari apa yang dijelaskan dalam paten Singular.in

Editor : Redaksi

Berita Terbaru