AI dan Masa Depan Jurnalisme, Dewan Pers: Harus Ditempatkan Proposional Sambil Dikontrol

JOGJAKARTA (Realita) Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses jurnalistik harus dikawal ketat dengan etika agar tidak menambah kerentanan ekosistem pers. Dewan Pers dalam sikapnya itu disampaikan dalam kegiatan Literasi Media bertema AI dan Masa Depan Jurnalisme: Menguasai Tools, Mempertahankan Etika di RRI Yogyakarta, pada Sabtu (22/11) kemarin.

Busyro Muqoddas selaku Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Dewan Pers menjelaskan bahwa AI sebagai perkembangan teknologi yang tak bisa dihindari.

“Dewan Pers telah sekian kali berdiskusi dengan para ahli dan menyimpulkan bahwa AI perlu ditempatkan secara proporsional, yakni dimanfaatkan tetapi tetap dikontrol melalui perspektif etika,” kata Busyro.

Dirinya juga menambahkan, bahwa perkembangan teknologi berlangsung cepat, sementara masyarakat kian pragmatis.

"Kondisi ini dinilai membawa konsekuensi pada melemahnya sensitivitas etika. Dalam ruang politik dan bisnis, pragmatisme bahkan dapat memicu penyimpangan yang berdampak pada kualitas informasi," ungkapnya.

Busyro juga mengingatkan, tanpa pengawalan etika, eskalasi penggunaan AI dapat membuat masyarakat menjadi korban dari arus informasi yang tidak terverifikasi. Karena itu, jurnalis didorong mengambil peran penting sebagai penjaga kualitas komunikasi publik dan memastikan teknologi dipakai untuk memperkuat edukasi, bukan menciptakan kebingungan.

Dewan Pers juga menyoroti persoalan industri media yang belakangan mengalami tekanan. Pihaknya mencatat sekitar 1.200 jurnalis kehilangan pekerjaan akibat kondisi perusahaan.

"Situasi itu berpotensi menghambat misi jurnalisme, terutama di tengah meningkatnya arus informasi digital yang menuntut verifikasi cepat dan akurat," pungkasnya.(Ham)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru