Menteri Kabinet Perang Zionis Israel Mundur, Tuding Netanyahu Pentingkan Ambisi Politik Pribadi

TEL AVIV - Anggota kabinet perang Israel Benny Gantz telah mengundurkan diri dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Hal ini memberikan pukulan telak bagi Netanyahu yang merayakan penyelamatan langka sandera yang ditahan di Gaza.

Lalu apa yang menjadi alasan dan pemicu Gantz akhirnya memutuskan mundur.

Baca Juga: Dijadikan Buron agar segera Ditangkap, PM Israel Benjamin Netanyahu: Saya Muak

Gantz, yang dianggap sebagai penantang politik utama Netanyahu, mengatakan ia mengundurkan diri delapan bulan setelah serangan Hamas pada 7 Oktober karena situasi di negara ini dan ruang pengambilan keputusan telah berubah.

Dia menuduh Netanyahu lebih mengutamakan pertimbangan politik pribadinya daripada strategi pascaperang di Jalur Gaza. Dia mengklaim bahwa keputusan strategis yang menentukan akan dipenuhi dengan keragu-raguan dan penundaan karena pertimbangan politik. Dia juga mendesak Netanyahu ntuk mengadakan pemilihan pada Agustus mendatang.

Baca Juga: Pengadilan Kriminal Internasional Perintahkan Penangkapan PM Israel Benjamin Netanyahu 

“Saya menyerukan kepada Netanyahu: tetapkan tanggal pemilu yang disepakati. Jangan biarkan rakyat kami terkoyak,” kata Gantz.

Keputusan Gantz memenuhi ultimatum yang dia berikan kepada Netanyahu pada bulan lalu yang meminta dia menyusun rencana baru untuk perang melawan Hamas pada 8 Juni.

Baca Juga: Benar-Benar Marah ke Netanyahu, Biden Beri Ultimatum AS Bakal Tinggalkan Israel

Gantz awalnya diperkirakan akan mengundurkan diri pada Sabtu (8/6/2024), namun menunda pengumuman tersebut menyusul berita bahwa pasukan Israel telah menyelamatkan empat sandera dalam sebuah operasi yang menurut para pejabat Gaza menyebabkan lebih dari 270 warga Palestina tewas.

Pengunduran dirinya terjadi meskipun Netanyahu meminta Gantz untuk tetap berada dalam pemerintahan darurat Israel, dengan mengatakan ini adalah waktunya untuk persatuan, bukan perpecahan. Setelah pengumuman Gantz, Netanyahu mendesaknya untuk berubah pikiran.ok

Editor : Redaksi

Berita Terbaru