SURABAYA (Realita) – Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) resmi menggelar konferensi pertamanya setelah sempat mandek beberapa tahun. Konferensi pertama ini dilaksanakan di HARRIS Hotel & Conventions Bundaran Satelit, Kota Surabaya, Sabtu (05/07/2025).
Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang dan dilaksanakan langsung oleh jajaran pengurus IPTPI selaku panitia.
Tak hanya dosen, IPTPI menggandeng seluruh lapisan profesi pada ranah Teknologi Pendidikan Nasional.
“Anggota kami bukan hanya dosen, ada tenaga pendidik, guru, praktisi, serta pengembang teknologi pembelajaran yang berprofesi di bidang teknologi pendidikan tergabung dalam IPTPI untuk mendorong mutu pendidikan dengan pemanfaatan inovasi teknologi,” Ujar Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. selaku ketua IPTPI.
“Konferensi ini merupakan kegiatan perdana pertama IPTPI bersama para anggota setelah sempat beberapa tahun terhenti,” lanjutnya.
Ketua IPTPI juga menyatakan bahwa pemilihan tema konferensi ini didasarkan pada trend penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari di masa kini terutama oleh para pelaku pendidikan, baik pelajar maupun pendidik.
Dalam pelaksanaanya, Konferensi IPTPI yang mengangkat tema Bridging Human Intelligence with Artificial Intelligence ini diikuti 260 peserta secara hybrid, yakni secara tatap muka dan juga melalui virtual dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Jumlah anggota IPTPI ada 500 orang yang terdiri dari dosen, guru, praktisi, pengembang teknologi pembelajaran. Sedangkan untuk peserta konferensi ini sendiri berjumlah 260 orang dari profesi yang sama dari berbagai wilayah di Indonesia,” terang Dr. Fajar Arianto, S.Pd., M.Pd., selaku sekretaris IPTPI.
Menurut keterangan panitia konferensi, saat ini tercatat sekitar 470 anggota yang telah melakukan pendaftaran ulang melalui sistem keanggotaan IPTPI.
Kegiatan yang diikuti para peserta meliputi seminar yang disampaikan oleh para profesional bidang teknologi Pendidikan dari berbagai ranah yaitu Kepala Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Prof. Dr. H. Muchlas Samani, M.Pd., Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbudristek) Dr. Laksmi Dewi, M.Pd., Kepala cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Surabaya dan Sidoarjo Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd., serta Dr. Henry Praherdhiono, S.Si., M.Pd. selaku Pengurus Pusat Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI).
“Pendidikan seharusnya dimulai dari proses mendidik, bukan sekadar mengajar. Sebab, jika hanya berfokus pada aktivitas mengajar, peran tersebut berpotensi tergantikan oleh kecerdasan buatan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa peran guru masih banyak terfokus pada aspek pengajaran semata,” ujar salah satu pemateri, Dr. Henry Praherdhiono, S.Si., M.Pd.
“AI jangan dijadikan alat pengambil keputusan, bahaya. Kita harus ada standardnya. Standardnya dimana. Kalau dilepas semua di AI, hancur semua,” lanjutnya.
Kegiatan seminar dibagi menjadi 2 sesi kemudian dilanjutkan dengan presentasi makalah oleh para peserta konferensi secara luring maupun daring.
Untuk diketahui, Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) merupakan organisasi profesional di Indonesia yang berfokus pada pengembangan dan penerapan teknologi dalam dunia pendidikan. Sejak berdiri pada 27 September 1987, IPTPI berkomitmen mendukung pemberdayaan para profesional di bidang teknologi pendidikan melalui pelatihan, seminar, serta penyediaan sumber daya yang relevan.
Organisasi ini disempurnakan dalam Kongres I yang dilaksanakan pada 15 Februari 1989, bertepatan dengan Temu Karya Nasional Teknologi Pendidikan yang digelar oleh PAU-PAI Universitas Terbuka bekerja sama dengan IPTP. Pembentukan dan pengembangan IPTPI didukung oleh konsorsium berbagai perguruan tinggi terkemuka, di antaranya Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas PGRI Argopuro, Universitas Dr. Soetomo, Universitas PGRI Adi Buana, Universitas Negeri Semarang, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Lambung Mangkurat.cin
Editor : Redaksi