SURABAYA (Realita) - Pemerintah terus perkuat literasi jaminan sosial bagi masyarakat sejak usia dini untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja.
Pada Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (14/8/2025), ditekankan pentingnya literasi jaminan sosial dalam mewujudkan kesejahteraan pekerja Indonesia yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan, literasi jaminan sosial yang luas dan merata penting, agar tidak ada masyarakat Indonesia yang tertinggal dan tidak mendapatkan perlindungan.
“Sistem Jaminan Sosial Nasional kita semakin bagus, sehingga kita memiliki pondasi yang kuat untuk meneruskan Sistem Jaminan Sosial lebih produktif," ujarnya.
"Kita berharap perguruan tinggi, universitas, akademisi, ilmuwan menjadi bagian ekosistem yang memperkuat perkembangan Jaminan Sosial Nasional,” lanjutnya.
Hadir dalam acara ini, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Pramudya Iriawan Buntoro, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti, DJSN, Kementerian, Lembaga terkait, dan rektor dari beberapa Universitas.
Disebutkan, penguatan literasi Jaminan Sosial sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2023 yang mengatur tentang Peta Jalan Jaminan Sosial Tahun 2023–2024.
Perpres tersebut memberikan pedoman strategis dalam beberapa aspek penting, seperti perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pengendalian penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Regulasi ini menjadi landasan dalam pelaksanaan program-program edukasi dan literasi jaminan sosial melalui pengembangan modul pendidikan.
Selaras dengan itu, Pramudya menyampaikan, jaminan sosial didasari dengan prinsip gotong royong. Yang mampu membantu dan yang tidak mampu akan dibantu.
"Kami dalam konteks Perlindungan Jaminan Sosial, baik BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, akan melibatkan seluruh pihak, karena kedepannya kita akan menghadapi aging population," lanjut Pramudya.
“Literasi jaminan sosial sejak usia dini sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Dengan edukasi sejak di bangku sekolah dasar diharapkan bisa menjadi bekal saat mereka memasuki dunia kerja, sehingga mereka tahu pentingnya Jaminan Sosial Ketenagakerjaan,” terang Pramudya.
Disampaikan, sejak 2024 hingga saat ini tercatat sosialisasi Modul Muatan Jaminan Sosial sudah dilakukan di 11 wilayah di tingkat SMA, SMK, MA/Sederajat total sebanyak 233 sekolah.
Pramudya menekankan, literasi jaminan sosial sejak dini ini langkah awal pembentukan budaya sadar jaminan sosial ketenagakerjaan.
Hal itu sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang mengusung misi peningkatan lapangan kerja berkualitas dan perkuatan pembangunan SDM melalui implementasi program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.
Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan ini jaring pengaman kesejahteraan dan menahan terjadinya kemiskinan baru, sebagai pondasi kuat ekonomi dan produktifitas menuju Indonesia Emas 2045.
“Kami berterima kasih atas dukungan dan komitmen dari Kemenko PM, DJSN, BPJS Kesehatan, serta Kementerian dan Lembaga lainnya atas peningkatan literasi muatan Jaminan Sosial bagi seluruh masyarakat," ucap Pramudya.
"Penguatan pemahaman ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan budaya sadar jaminan sosial khususnya perlindungan atas risiko kerja, sehingga masyarakat dapat Kerja Keras dan Bebas Cemas," imbuhnya.
Dihubungi di kantornya, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sidoarjo Arie Fianto Syofian menuturkan, literasi jaminan sosial perlu ditanamkan sejak siswa di sekolah dasar hingga di perguruan tinggi.
Sehingga, lanjut Arie, dengan penguatan literasi ini seluruh masyarakat akhirnya paham pentingnya perlindungan bagi setiap pekerja baik formal maupun informal, karena mereka berhak mendapatkan jaminan sosial dari berbagai risiko pekerjaan. gan
Editor : Redaksi