JAKARTA (Realita)- Poltracking Indonesia merilis hasil survei terkait satu tahun kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Dalam survei periode 3-10 Oktober 2025, Poltracking menemukan tingkat kepuasan yang cukup tinggi terhadap Wapres Gibran sebesar 71,4 persen dengan ketentuan sangat puas 8,6 persen dan cukup puas 62,8 persen.
Temuan Poltracking tersebut menuai keraguan dari publik, terutama kalangan akademisi karena dianggap kontradiksi dengan sikap masyarakat belakangan ini.
Salah satu akademisi yang meragukan hal itu yakni Direktur Political and Publik Policy Studies (P3S) Jerry Massie. Ia menilai temuan tersebut hanya akal-akalan lembaga survei.
Ia membandingkan temuan Poltracking dengan survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 9-17 Oktober 2025 yang memberikan penilaian kepuasan terhadap Gibran dengan ketentuan sangat puas 2 persen, puas 27 persen, dan cukup 34 persen.
“Saya kira yang benar hasil survey IPO yang menempatkan Gibran di posisi 2 persen. Tingkat kepuasan publik mencapai 71 persen hasil akal-akalan,” ujar Jerry, Minggu (26/10/2025).
Jerry mengatakan temuan Poltracking sangat berbanding terbalik dengan sikap masyarakat yang masih belum sepenuhnya percaya kepada Gibran.
Terlebih, ia melihat sejauh ini Gibran belum memberikan kontribusi signifikan dalam pemerintahan Kabinet Merah Putih.
Jerry juga mengingatkan publik soal Poltracking yang pernah dilarang mengeluarkan hasil survei saat Pilkada 2024 kemarin. Hal ini karena Poltracking diduga memanipulasi hasil survei Pilkada DKI Jakarta.
“Kan Poltracking juga pernah di banned pada pilkada DKI Jakarta lalu sempat disanksi KPU lantaran pernah memanupulasi hasil survey Pilkada DKI,” ucapnya.
Kemudian, Jerry juga menyoroti pernyataan Direktur Poltacking, Hanta Yudha yang menyebut bahwa kepuasan publik terhadap Gibran didorong oleh citranya sebagai sosok muda pembawa energi positif 19, 4 persen.
Dalam temuannya, Poltracking juga memaparkan bahwa responden menilai Gibran dekat dengan rakyat 15,7 persen, mampu bersinergi dengan Prabowo 10,3 persen, pintar dan cerdas 8,7 persen, serta membela kepentingan masyarakat kecil 7,2 persen.
“Gibran disebut cerdas dan visioner. Bukannya dia tugasnya hanya bagi-bagi skincare dan datang memeriksa tas murid-murid SDN dan berdialog dengan anak-anak SMP apa yang cerdas,” tutur Jerry.
Menurut Jerry, hasil survei tersebut dilakukan untuk menghindari isu pemakzulan terhadap Gibran karena inkompetensinya sebagai wapres.
Jerry menjelaskan kondisi masyarakat pada kenyataannya masih belum mempercayai kompetensi Gibran sebagai wakil presiden.
“Barangkali survei ini untuk menghindari pemakzulan,” jelas Jerry.
“Saya tak percaya kalau responden anak kuliahan atau kaum intelektual. Jangan-jangan para responden kelompok relawan Gibran, para buzzer dan relawan Jokowi, serta kaum penjilat,” pungkasnya.jr
Editor : Redaksi