Kota Kediri Resmikan SPPG di Lirboyo, Program MBG Serap 1,2 Juta Tenaga Kerja

Advertorial

KEDIRI (Realita) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap perekonomian.

Hal ini terlihat dalam peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Selasa (14/4/2026).

Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin, hadir langsung dalam peresmian SPPG NU yang dirangkaikan dengan kegiatan business matching supply chain MBG.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor.

Sebanyak 27 SPPG tahap ke-5 diresmikan dalam kegiatan tersebut, termasuk SPPG Kota Kediri Mojoroto Lirboyo 3.

Selain itu, turut dilakukan penandatanganan kerja sama layanan perbankan syariah antara PT Bank Syariah Indonesia dan SPPG Lirboyo.

Qowimuddin menyampaikan bahwa keberadaan SPPG memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi juga mulai meningkat.

“Kalau ada yang kurang atau tidak sesuai pasti langsung lapor. Ini menunjukkan masyarakat sudah sadar pentingnya makanan bergizi, dan ini jadi perhatian kita untuk terus memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, mengungkapkan bahwa program MBG memberikan dampak luas, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Advertorial

Ia menyebut, hingga saat ini program MBG telah menyerap sekitar 1,2 juta tenaga kerja, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 62 juta jiwa di seluruh Indonesia.

“Program ini tidak hanya memberikan asupan gizi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menargetkan pembangunan lebih dari 1.000 SPPG di seluruh Indonesia. Khusus di kawasan Lirboyo yang memiliki sekitar 52 ribu santri, dibutuhkan sekitar 15 hingga 20 SPPG untuk mendukung pemenuhan gizi secara optimal.

Saat ini, baru dua SPPG yang telah beroperasi di kawasan tersebut. Ke depan, percepatan pembangunan akan terus didorong agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

Melalui sinergi antara pemerintah, pesantren, dan sektor keuangan, keberadaan SPPG diharapkan tidak hanya menjadi pusat penyediaan gizi, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.nia

 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru