JEMBER (Realita) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat kinerja simpanan perbankan di Jawa Timur terus menunjukkan tren positif hingga Juni 2026.
Selain nilai simpanan bertambah sekitar Rp37 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah rekening juga meningkat sekitar 854 ribu rekening.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan.
Kepala LPS Wilayah II, Bambang S. Hidayat, menjelaskan Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan jumlah rekening terbesar ketiga di Indonesia.
Hingga Juni 2026, jumlah rekening di Jawa Timur mencapai sekitar 73 juta rekening atau tumbuh 1,17 persen secara tahunan (year on year).
Meski demikian, secara persentase tidak terlalu besar. Pertumbuhan tersebut setara dengan penambahan sekitar 854 ribu rekening baru dalam satu tahun.
Dari sisi nominal simpanan, Jawa Timur juga mempertahankan posisi sebagai provinsi dengan nilai simpanan terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Total simpanan masyarakat meningkat 4,64 persen secara tahunan atau bertambah sekitar Rp37 triliun.
"Kalau kita bicara secara year on year, Jawa Timur yang berada di posisi kedua ini naik sebesar 4,64 persen atau bertambah sekitar Rp37 triliun. Dari sisi rekening juga bertambah sekitar 854 ribu rekening dibandingkan Juni tahun lalu," katanya, Rabu (05/08/2026).
Menurut Bambang, pertumbuhan simpanan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan dana murah berupa tabungan dan giro. Simpanan giro tumbuh sekitar 12 persen, sedangkan tabungan meningkat 6,31 persen. Sebaliknya, deposito mengalami kontraksi yang diduga akibat pergeseran dana masyarakat ke produk perbankan dengan biaya dana yang lebih rendah.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi industri perbankan. Dengan meningkatnya dana murah, bank memiliki ruang yang lebih besar untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pertumbuhan simpanan juga didominasi kelompok rekening bernilai besar. Simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh sekitar 10 persen, sedangkan kelompok Rp2 miliar hingga Rp5 miliar mengalami sedikit penurunan yang diduga karena terjadi perpindahan dana ke kelompok simpanan yang lebih besar.
"Kalau pertumbuhan tabungan dan giro lebih tinggi, artinya pertumbuhan dana murah juga meningkat. Otomatis cost of fund bank menjadi lebih rendah sehingga kemampuan bank memberikan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif juga semakin baik," ujar Bambang.
LPS juga mencatat simpanan pada bank syariah tumbuh lebih cepat dibandingkan bank konvensional. Meskipun pangsa simpanan syariah baru sekitar 7 persen dari total simpanan di Jawa Timur, pertumbuhannya mendekati 7 persen, sedangkan simpanan bank konvensional tumbuh sekitar 4,5 persen.
Dari sisi perlindungan simpanan, sebanyak 99,95 persen rekening di Jawa Timur masih berada di bawah batas maksimal penjaminan LPS sebesar Rp2 miliar per nasabah per bank. Angka tersebut dinilai menunjukkan kesadaran masyarakat untuk menempatkan dana sesuai cakupan penjaminan LPS masih sangat baik.
Meski demikian, LPS mengingatkan masih terdapat sekitar 29 persen nominal simpanan yang memperoleh bunga di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP). Perbankan diimbau menyesuaikan tingkat suku bunga simpanan agar dana nasabah tetap memenuhi syarat untuk dijamin LPS.
"Share rekening di bawah Rp2 miliar masih mencapai 99,95 persen. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap batas penjaminan LPS masih sangat baik. Namun kami juga menghimbau perbankan agar lebih memperhatikan tingkat bunga penjaminan," ujar Bambang.
Pada tingkat kabupaten dan kota, Surabaya masih menjadi daerah dengan jumlah rekening terbanyak di Jawa Timur, yakni sekitar 11,83 juta rekening. Kabupaten Jember menempati posisi kedua dengan sekitar 4,34 juta rekening, jauh di atas sebagian besar daerah lainnya di Jawa Timur.
Sementara itu, Kota Batu menjadi daerah dengan pertumbuhan jumlah rekening tertinggi, mencapai 20,4 persen secara tahunan meski memiliki jumlah rekening paling sedikit. Sebaliknya, Kabupaten Sumenep menjadi satu-satunya daerah yang mengalami penurunan signifikan, yakni sekitar 11 persen dibandingkan Juni 2025.
"Surabaya memang masih menjadi yang terbesar dengan sekitar 11,83 juta rekening. Yang menarik, Jember berada di peringkat kedua dengan sekitar 4,34 juta rekening.
Sementara Kota Batu mencatat pertumbuhan rekening tertinggi lebih dari 20 persen, sedangkan Sumenep justru mengalami penurunan sekitar 11 persen secara year on year," pungkas Bambang.rdy
Editor : Redaksi