PONOROGO (Realita)— Puluhan warga Lingkungan Trunodangsan, Kelurahan Tambakbayan, Kabupaten Ponorogo, menyegel sebuah outlet yang diduga menjual minuman keras di Jalan Trunojoyo, Kamis (10/9/2026) malam. Aksi penutupan ini dilakukan karena warga geram dengan aktivitas di lokasi tersebut yang dinilai mengganggu ketenteraman lingkungan permukiman.
Sekitar 40 hingga 50 warga turun tangan mendatangi lokasi dan sepakat menutup tempat usaha tersebut setelah keresahan yang dirasakan dinilai sudah berada di luar batas.
Ketua RT 03/RW 03 Lingkungan Trunodangsan, Muhammad Alfian Syukroni, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari warga terkait aktivitas janggal di sekitar outlet tersebut sejak Mei 2026. Sebelum aksi penyegelan dilakukan, ia mengaku telah berupaya menempuh jalur administratif dengan melapor kepada pihak kelurahan sebanyak dua kali. Namun, aktivitas yang dikeluhkan tetap terulang kembali.
"Iya, sudah mengganggu. Laporan warga mulai bulan 5. Saya sudah lapor ke Pak Lurah, sudah menghadap 2 kali. Seperti itu dan ternyata masih terulang kembali untuk kegiatan minum-minuman itu," kata Jumat, Kamis (12/9/2026).
Roni menuturkan, outlet tersebut mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025, yakni sekitar malam Natal, meski warga tidak mengetahui tanggal pasti pembukaannya. Ironisnya, kehadiran usaha itu tidak diawali dengan sosialisasi atau pemberitahuan kepada lingkungan sekitar. Pemberitahuan kepada pengurus RT baru dilakukan pihak pengelola setelah toko resmi berjalan.
Berdasarkan keterangan warga, outlet itu beroperasi penuh selama 24 jam. Kendati demikian, gangguan paling parah justru terjadi pada jam-jam istirahat setelah tengah malam. Selain aktivitas menenggak minuman beralkohol, kerumunan pengunjung yang didominasi kawula muda kerap menimbulkan kebisingan hingga mengganggu warga sekitar.
"Toko situ kan bukanya 24 jam. Lah, untuk kegiatan biasanya dilakukan tengah malam, jam 12 malam ke atas. Ya selain minum-minum juga kan ramai, suaranya cewek-cowok ramai sampai mengganggu tetangga gitu," jelas Roni.
Sebelum aksi penyegelan pecah, warga sejatinya telah berulang kali memberikan teguran secara persuasif dan langsung kepada pihak di outlet tersebut. Mereka meminta agar pengunjung tidak membuat keributan mengingat lokasi usaha berada di tengah-tengah perkampungan padat penduduk. Sayangnya, teguran tersebut diabaikan dan aktivitas yang meresahkan terus berlanjut.
Puncak kekesalan warga terjadi setelah mereka mendapati pemandangan yang tidak pantas di muka umum. Warga melaporkan pernah melihat orang dalam kondisi mabuk berat hingga tidak berdaya di depan toko setelah menenggak minuman keras sampai pagi hari. Salah satu insiden paling mencolok terjadi pada Sabtu (5/9/2026) lalu, di mana seorang pemuda yang diduga dalam pengaruh alkohol terlihat merangkak atau ngesot di depan outlet selepas waktu subuh.
"Itu sampai pagi, biasanya sampai pagi ya warga yang lihat ada orang teler, entah itu temen-temennya karyawan, ya teler ngesot di depan toko itu," ungkap Roni.
Temuan warga yang mendapati seseorang dalam kondisi teler tepat seusai waktu subuh pada akhir pekan lalu tersebut seketika memicu kemarahan warga secara kolektif. Laporan-laporan akumulatif itu akhirnya bermuara pada keputusan bersama warga untuk menutup dan menyegel operasional outlet tersebut demi mengembalikan keamanan dan ketertiban lingkungan.znl
Editor : Redaksi