BATU (Realita)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menggencarkan pencarian kasus tuberkulosis (TBC) secara aktif di masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan untuk menemukan warga yang diduga terinfeksi TBC agar dapat segera menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penanggulangan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan pihaknya menjalankan program Active Case Finding (ACF) di 42 lokasi atau lokus di Kota Batu.
“Ini untuk menemukan teman-teman yang menderita TBC, mungkin selama ini belum ditemukan karena berbagai macam stigma, malu dan sebagainya. Padahal penyakit ini bisa sembuh 100 persen asal ditemukan dan segera ditegakkan diagnosisnya,” ujar dr. Icang. Senin (14/9/2026)
Menurutnya, sasaran pemeriksaan antara lain warga yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TBC, penderita diabetes yang mengalami batuk berkepanjangan, serta masyarakat dengan keluhan batuk yang tidak kunjung sembuh. Pemeriksaan dilakukan melalui pemeriksaan dahak dan foto toraks. Pemeriksaan lanjutan juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan medis.
Dinkes Kota Batu menargetkan 589 warga dengan dugaan TBC untuk menjalani pemeriksaan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dari setiap lokus, ditemukan sekitar 10 hingga 30 orang yang masuk kategori dugaan TBC. Namun, status tersebut masih harus dipastikan melalui pemeriksaan medis.
“Dugaan TBC belum tentu TBC. Ini sedang kami seleksi. Kami juga bersama dokter spesialis paru membaca hasil pemeriksaan sekaligus memberikan pengobatan bagi yang memang terdiagnosis,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini, dr. Icang Sarrazin mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh batuk yang berlangsung terus-menerus. Batuk lebih dari dua minggu, keringat dingin pada malam hari, serta adanya kontak erat dengan pasien TBC menjadi tanda yang perlu diperiksa.
Ia juga menyebut diabetes dan kebiasaan merokok dapat menjadi faktor yang memperberat risiko TBC. Meski demikian, perokok tidak otomatis terkena TBC.
Untuk membedakan batuk biasa dengan TBC, masyarakat disarankan tidak melakukan pengobatan sendiri. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
“Kalau batuk tidak sembuh-sembuh, saya tetap menyarankan datang ke puskesmas agar segera terdeteksi dan bisa dibedakan antara TBC atau alergi,” katanya.
Dirinya menegaskan TBC bukan penyakit yang harus membuat penderitanya dikucilkan. Pasien tetap dapat beraktivitas selama menjalani pengobatan, dengan tetap menggunakan masker untuk mencegah penularan.
“TBC bukan stigma. Saya tegaskan sekali lagi pada prinsipnya TBC bisa disembuhkan 100 persen dan obati sampai sembuh.” ujar dr. Icang.
Dinkes Kota Batu juga mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan dan menggunakan masker, terutama ketika mengalami gejala gangguan pernapasan. (Ton)
Editor : Redaksi