Indonesia Darurat Pendidikan, Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca

JAKARTA – Persoalan kemampuan membaca siswa kembali menjadi sorotan dunia pendidikan Indonesia. Sejumlah temuan di daerah menunjukkan masih ada siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang belum mampu membaca dengan baik, padahal mereka telah melewati jenjang pendidikan dasar.

Di Kabupaten Buleleng, Bali, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga mencatat 363 siswa SMP mengalami kesulitan membaca. Rinciannya, 155 siswa masuk kategori tidak bisa membaca sama sekali, sedangkan 208 siswa lainnya belum lancar membaca. Data tersebut diumumkan pada April 2025 berdasarkan hasil verifikasi pemerintah daerah. 

Persoalan serupa juga disoroti anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf. Dalam rapat kerja bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada 16 Juli 2025, ia mengungkapkan masih menemukan siswa kelas I dan II SMP yang belum bisa membaca saat melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Serang, Banten. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kemampuan membaca tidak hanya menjadi perhatian di Bali. 

Sementara itu, tantangan literasi Indonesia juga tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa sekitar 75 persen siswa berusia 15 tahun di Indonesia memiliki kemampuan membaca di bawah standar minimum PISA level 2. Namun, angka tersebut mengukur kemampuan memahami bacaan, bukan jumlah siswa yang sama sekali tidak bisa membaca. 

Berbagai temuan tersebut menyoroti pentingnya evaluasi kemampuan dasar siswa sejak sekolah dasar, pendampingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, serta penguatan peran guru dan keluarga.

Meski demikian, jumlah siswa SMP yang sama sekali tidak bisa membaca secara nasional belum dapat dipastikan dari sumber-sumber tersebut.

Data nasional yang terverifikasi diperlukan agar skala persoalan ini dapat digambarkan secara akurat.nr

Editor : Redaksi

Berita Terbaru