Kasus Rizky Kalibuntu vs Endang Karangjunti, Kompolnas: Cepat Terungkap Kepercayaan Meningkat

JAKARTA (Realita) - Lima bulan berlalu, peristiwa kematian Rizky Setiawan (25) masih menjadi misteri, siapa pelakunya dan motif apa yang melatarbelakangi para terduga pelaku hingga tega menghabisi remaja asal Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Menurut informasi yang dihimpun Realita.co ketika itu, tepatnya pada tanggal, 12 Oktober 2024 tahun lalu. Masyarakat Desa Kalibuntu sedang melaksanakan prosesi turun-temurun acara adat istiadat "Sedekah Bumi", acara ini adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah ruah. Acara yang sebelumnya berlangsung meriah berubah seketika menjadi petaka terkhusus buat keluarga besar almarhum Rizky Setiawan. Keesokan harinya (13/10), korban Rizky ditemukan warga sudah tidak bernyawa di semak- semak tepian Sungai Cisanggarung, kurang lebih sekitar pukul 13.00 WIB.

Ditanya lebih rinci, langkah apa yang dilakukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) setelah keluarga almarhum menyambangi untuk menceritakan peristiwa dan keluhannya seputar informasi perkembangan kasus yang ditangani kepolisian, kemudian adakah dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam proses penyelidikan awal hingga memakan waktu lima bulan lebih kasus belum juga terungkap.

"Kompolnas akan terus memonitor perkembangan setelah penanganan kasusnya diambil alih oleh Polres. Pengambil alihan tersebut menjadi langkah baik, mengingat selama lima bulan penanganannya di Polsek belum ada titik terang," ucap Komisioner Kompolnas, Gufron Mabruri kepada Realita.co, Jum'at (7/3/2025).

Masih jelas mantan aktivis HAM ini, Kompolnas percaya Polres punya sumber daya untuk segera mengungkap dan menuntaskan kasus Rizky Setiawan. Jika diperlukan juga bisa meminta bantuan dari Polda Jawa Tengah.

"Intinya, semakin cepat kasus ini terungkap, hal ini tidak hanya memberikan keadilan bagi keluarga korban tapi juga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada kepolisian," ungkapnya.

Sebelumnya, Tim Resmob Satreskrim Polres Brebes pimpinan Aiptu Titok Ambar Pramono dan tim Jatanras Polda Jateng, menangkap dua orang terduga pelaku pembunuhan seorang wanita yang jasadnya di buang ke sungai dari atas jembatan di Desa Karangjunti, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Senin (11/11/2024).

Tidak butuh waktu lama kedua terduga pelaku pembunuh wanita yang jasad di buang ke sungai dari atas jembatan langsung di ringkus polisi.

Diketahui dua pelaku adalah paman dan keponakannya. Polisi menangkap EHR (57) dan Irfan (26), keduanya warga Kuningan Jawa Barat, ditangkap dirumahnya pada Selasa (12/11) pagi.

Banyak pertanyaan dari publik dan keluarga korban Rizky Setiawan. Apakah Peristiwa di Kalibuntu tidak seheboh di Karangjunti? Jawaban tersebut hanya alam semesta yang tahu.

Kemarin, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol. Artanto sempat menjelaskan, terkait perkembangan kasus Rizky Setiawan di Kabupaten Brebes.

"Kasus tersebut masih dalam penyelidikan intensif oleh pihak Polres," jelas Artanto, Kamis (6/3).

Dirinya belum membeberkan, secara detail sejauh mana kepolisian menangani kasusnya.

Pemerhati Kepolisian dan juga mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Poengky Indarti juga pernah menyoroti kasus yang diduga mandeg ini.

"Penyidik dalam menangani kasus meninggalnya Alm. Rizky diharapkan memaksimalkan dukungan scientific crime investigation agar hasilnya tidak terbantahkan," kata Poengky Indarti.

Poengky juga menjelaskan, setelah melakukan otopsi terhadap jenazah dan mengetahui penyebab kematian korban, adalah adanya luka di bagian belakang kepala akibat pukulan benda tumpul, maka diduga ada orang lain yang melakukannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa kematian korban akibat tindakan orang lain, bukan akibat terjatuh atau bunuh diri.

"Penyidik perlu memperdalam sehingga dapat menemukan pelakunya. Untuk itu keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, dan bukti pendukung perlu dikumpulkan. Misalnya mengecek komunikasi korban saat masih hidup melalui pemeriksaan digital forensik HP korban atau medsos korban, mengecek rekening bank korban, mengecek CCTV mulai dari sekitar tempat tinggal korban hingga tempat ditemukannya jenazah korban, dan sebagainya.

"Saya yakin tidak ada kejahatan yang sempurna. Pasti ada yang "ditinggalkan pelaku," paparnya.

Mantan aktivis perempuan ini juga melihat, bantuan masyarakat juga sangat diharapkan, terutama yang mengetahui saat-saat terakhir korban, termasuk memeriksa kawan-kawan korban yang sempat dilihat saksi. Dengan ketekunan dan kesabaran penyidik, diharapkan kasus ini akan terbongkar.

Poengky juga berharap, pihak kepolisian memberikan penjelasan secara berkala kepada keluarga korban dan publik.

"Ini harus dilakukan penyidik agar ada transparansi, demikian juga kepada publik melalui press conference dengan jurnalis media massa. Dengan demikian profesionalisme Kepolisian dapat terwujud," pungkasnya. (tom)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru