Rizky Setiawan Memang Dibunuh, Kapolres Janji Akan Selesaikan Perkaranya

BREBES (Realita) - Kasus kematian Rizky Setiawan (25), pemuda asal Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari masih penuh misteri, pasalnya hingga kini polisi masih melakukan penyelidikan mengungkap insiden dugaan pembunuhan terhadap remaja yang jenazahnya dibuang di semak-semak pinggir Sungai Cisanggarung oleh pelaku.

Kapolres Brebes, AKBP Achmad Oka Mahendra menjelaskan, secara umum penyidikan pasti terus berjalan. Pihaknya melakukan seoptimal mungkin penanganan perkara ini agar bisa diselesaikan.

"Kemarin sudah saya supervisi secara langsung tahapannya dan sudah diback up juga dari Polda Jateng. Semua kemungkinan motif dari peristiwa sedang kami dalami, memang ada beberapa kendala pengumpulan alat bukti yang belum bisa menunjukan secara terang peristiwanya," ujar Achmad Oka Mahendra kepada Realita.co, Senin (7/4/2025)

Jebolan Akpol 2004 ini menambahkan, nanti secara detail Kasat Reskrim akan menghubungi untuk menjelaskan secara rinci, dan mohon bantuannya, kalau ada info terkait peristiwa tersebut," tambahnya.

Rizky Setiawan (25) ditemukan dengan kondisi tidak bernyawa oleh warga sekitar pasca acara Sedekah Bumi di Desa Kalibuntu, pada Minggu, 13 Oktober 2024 lalu. Berdasarkan hasil otopsi tim inafis Polres Brebes dibantu Polda Jawa Tengah menerangkan, kondisi mayat terdapat luka di wajah dan sekitar kepala. Serta didapatkan luka akibat kekerasan tumpul berupa memar pada kepala, wajah, leher, bahu kanan, dada, perut, punggung dan kedua anggota gerak atas, luka lecet pada wajah dan kedua anggota gerak atas, resapan darah pada kulit kepala bagian dalam, kulit leher bagian dalam, otot leher, tenggorok dan dasar tulang tenggorok pendarahan otak, didapatkan tanda mati lemas serta proses pembusukan titik sebab mati adalah cekik dan kekerasan tumpul pada kepala mengakibatkan pendarahan otak sehingga mati lemas.

Kemudian, Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Resandro Handriajati merinci, dalam penanganan kasus tewasnya Rizky Setiawan, masih tetap berjalan untuk prosesnya.

"Ada 25 saksi sudah diperiksa dan kami sudah kirim Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) ke keluarga korban," terang Resandro.

Disinggung adakah kendala dalam mengungkap motif dan terduga pelaku pembunuhan hingga memakan waktu yang cukup lama, Resandro mengatakan, kalau masalah kapan cepat atau tidaknya kan tergantung masing-masing kasus.

"Bukan karena kita memperlambat, karena kasus pembunuhan itu adalah prestasi buat kami (polisi) jadi ya harapan kita pinginnya sukses terungkap, tapi memang sampai sekarang dari 25 saksi pun itu, juga belum ada, istilahnya kemajuan yang signifikan jadi tetap kita cari," ungkapnya.

Karena bulan lalu sudah kita lakukan pemeriksaan lagi, cuma memang belum ada tanda-tanda," tambahnya.

Menurut informasi dari Kasat Reskrim, pada tanggal 10 Maret 2025, pihak kepolisian sudah melakukan pemeriksaan kembali terhadap sakai-saksi terkait peristiwa tersebut.

"Ya sampai kita periksa semuanya, cuma memang ada kendalanya minim saksi peristiwa itu, terus awal ketika kami datang memang itu yang pertama menemukan si korban dari warga dulu, kemudian langsung tim identifikasi datang, memang kondisinya seperti itu," bebernya.

Secara detail penyidik juga sudah mengecek, baik di YouTube masing-masing karena bahwa di lokasi memang minim CCTV walaupun hanya YouTube.

"Kita lihat-lihat permenitnya, kami pantengin bareng, itu juga sama Pak Kapolres sama kita juga, cek satu-satu videonya cuma memang belum ada kemajuan," tuturnya.

Menurut Resandro, istilahnya juga dalam setiap pengungkapan kasus harus berdasarkan alat bukti yang cukup.

"Jadi bagi kami, kasus pembunuhan harus diungkap. Itu prestasi juga, maksudnya secara moral. Dalam kasus ini, Kanit Resmob saya juga sudah maksimal bersama timnya. Mengecek satu-satu semuanya, tapi memang belum ada petunjuk yang signifikan paling seperti itu saja," imbuhnya.

Kita juga sudah melakukan hal yang maksimal untuk terus memantau untuk mengumpulkan barang bukti dan keterangan, kalau ada petunjuk akan kami informasikan," tandasnya.

Ditanya kembali, apakah Rizky adalah korban pembunuhan, karena ada isu liar yang diduga dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahwa korban meninggal karena over dosis. Polisi memastikan memang benar perbuatan tersebut (pembunuhan) dan pihaknya juga sudah menaikkan pekaranya menjadi "Sidik ". Untuk saat ini, pihaknya belum mengarah atau mencari tersangkanya karena harus melalui proses rangkaian agar tidak terbantahkan (scientific crime investigation).

"Tapi memang meninggalnya betul (korban pembunuhan). Kami kan istilahnya objektif, karna perkakasnya itu sudah jadi LP dan masa kita berbuat seperti itu, secara moral pun tidak mau. Dosa, pertanggung jawabannya," tegas Resandro.

Masih jelas Resandro, makanya pertanggung jawaban saya memang benar, karena ini ada perbuatannya. Kalau tersangkanya belum ada, kita juga tidak berani jika barang buktinya belum lengkap apalagi nuduh orang, malah nanti kejadian aneh-aneh.

"Tersangka kan orang itu, kan tanggung jawab moral dan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti," ucapnya.

Sebelumnya, berbagai pihak juga menyoroti peristiwa kelam di Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, Brebes. Seperti halnya, anggota Komisi 3 DPR RI, Ketua Harian dan Komisioner Kompolnas, Kriminolog Universitas Indonesia hingga Pemerhati Kepolisian, Poengky Indarti yang juga ex Komisioner Kompolnas.

"Saya yakin tidak ada kejahatan yang sempurna. Pasti ada yang "ditinggalkan pelaku," jelas Pemerhati Kepolisian, Poengky Indarti, (9/2). (tom)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru