Israel Menggila, Bunuh 146 Warga Palestina Dalam 24 Jam

 

GAZA (Realita)- Militer Israel menewaskan sedikitnya 146 warga Palestina dalam serangan udara terbaru di Gaza selama 24 jam terakhir. Otoritas Kesehatan Gaza meyakini korban luka jauh lebih banyak lagi daripada itu.

Serangan udara Israel dilakukan saat mereka juga tampaknya bersiap untuk melanjutkan serangan darat baru dan setelah Presiden AS Donald Trump mengakhiri lawatannya di Timur Tengah tanpa ada kemajuan yang jelas menuju gencatan senjata baru.

"Sejak tengah malam, kami telah menerima 58 martir, sementara sejumlah besar korban masih tertimbun reruntuhan. Situasi di dalam rumah sakit sangat buruk," kata direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, Marwan Al-Sultan.

Reuters memberitakan bahwa berdasarkan data otoritas kesehatan setempat 459 orang telah terluka dalam serangan Israel dalam 24 jam terakhir.

Pada Jumat (16/5), militer Israel memerintahkan warga Gaza untuk pindah ke selatan setelah serangan hebat di kota utara Beit Lahia dan kamp pengungsi Jabalia. Warga mengatakan tank-tank bergerak maju menuju kota selatan Khan Younis.

Militer Israel pada Sabtu (17/5) melakukan serangan besar-besaran dan memobilisasi pasukan sebagai bagian dari persiapan untuk memperluas operasi di Jalur Gaza dan mencapai "kendali operasional" di sana.

 

 

Sistem kesehatan Gaza hampir tidak beroperasi dengan rumah sakit yang berulang kali diserang militer Israel selama perang 19 bulan dan pasokan medis menipis karena Israel memperketat blokade sejak Maret 2025.

Eskalasi, yang mencakup penumpukan pasukan lapis baja di sepanjang perbatasan, merupakan bagian dari tahap awal Operation Gideon's Wagons, yang menurut Israel ditujukan untuk mengalahkan Hamas dan mendapatkan kembali para sanderanya.

Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan awal Mei 2025 bahwa operasi tersebut tidak akan diluncurkan sebelum Trump mengakhiri kunjungannya ke Timur Tengah.

"Kami secara bertahap meningkatkan pasukan; Hamas tetap menantang," kata militer pada Sabtu (17/5).

Terpisah, PBB memperingatkan bahwa kelaparan mengancam di Gaza setelah Israel memblokir pengiriman bantuan ke jalur tersebut 76 hari lalu, dengan kepala bantuan PBB Tom Fletcher meminta Dewan Keamanan minggu ini apakah mereka akan bertindak untuk "mencegah genosida."

Trump pada Jumat (16/5) mengakui krisis kelaparan yang meningkat di Gaza dan perlunya pengiriman bantuan, karena tekanan internasional meningkat pada Israel untuk melanjutkan pembicaraan gencatan senjata dan mengakhiri blokadenya terhadap Gaza.

Sebuah yayasan yang didukung AS baru akan mendistribusikan bantuan kepada warga Gaza pada akhir Mei, dengan menggunakan perusahaan keamanan dan logistik swasta AS, tetapi PBB mengatakan tidak akan bekerja sama dengan yayasan tersebut karena tidak imparsial, netral, atau independen.nn

Editor : Redaksi

Berita Terbaru