Unesa Jadi Tuan Rumah Pertemuan Asipena, Dorong Kolaborasi Inovasi Pendidikan

SURABAYA (Realita)— Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi tuan rumah pertemuan Asosiasi Inovasi Pendidikan (Asipena) yang membahas penyusunan peta jalan dan penguatan kolaborasi riset pendidikan tinggi di Indonesia. Pertemuan tersebut digelar di Gedung Rektorat Kampus 2 Unesa, Lidah Wetan, Surabaya, Jumat, 6 Februari 2026.

Wakil Rektor III Unesa Bidang Kemahasiswaan, Bambang Sigit, mengatakan dunia pendidikan tengah menghadapi transformasi besar seiring pesatnya perkembangan teknologi. Menurut dia, inovasi pendidikan tidak lagi dapat dikembangkan secara parsial oleh masing-masing perguruan tinggi.

“Sinergi antar-kampus diperlukan agar inovasi pendidikan tidak berhenti pada tataran konsep akademik, tetapi dapat berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.

Ia menambahkan, forum Asipena diharapkan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan riset, pengembangan teknologi pembelajaran, serta perumusan kebijakan pendidikan berbasis data.

Pertemuan tersebut melibatkan sejumlah perguruan tinggi eks-Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), antara lain Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Negeri Padang.

Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah (IPPI) Unesa, Nadi Suprapto, menyebut forum Asipena sebagai ruang konsolidasi nasional untuk memperkuat posisi inovasi pendidikan yang kerap kalah perhatian dibanding riset berbasis sains murni. Menurut dia, inisiatif kolaborasi ini telah dirintis sejak beberapa tahun lalu dan kini berkembang menjadi wadah resmi kerja sama antarperguruan tinggi.

“Fokus utama pertemuan ini adalah penyusunan peta jalan dan program kerja bersama, termasuk memperluas kolaborasi antara riset, industri, dan pengembangan teknologi pendidikan,” ujar Nadi.

Advertorial

Penggagas Asipena, Yadi Ruyadi, menilai inovasi pendidikan masih menghadapi tantangan internal dan eksternal. Di internal perguruan tinggi, dosen perlu didorong untuk melihat pendidikan sebagai ruang inovasi yang dapat dihilirisasi menjadi produk. Sementara secara eksternal, minimnya perhatian industri dan publik menjadi kendala implementasi inovasi pendidikan di sekolah.

“Sejumlah prototipe media pembelajaran sebenarnya sudah siap diproduksi, tetapi masih membutuhkan dukungan pemerintah dan ekosistem pengguna,” kata Yadi.

Sementara itu, Direktur Direktorat Inovasi, Hilirisasi, dan Science Techno Park Universitas Pendidikan Indonesia, Ida Kaniawati, memaparkan program kerja Asipena 2026 yang menitikberatkan pada hilirisasi riset pendidikan. Ia menyebut prototipe inovasi perlu dikembangkan melalui tahapan uji coba, sertifikasi, paten, hingga produksi massal agar memiliki nilai manfaat dan ekonomi.

“Forum ini menegaskan komitmen Asipena untuk membangun ekosistem inovasi pendidikan yang kolaboratif dan berkelanjutan, serta memperluas dampaknya bagi masyarakat dan industri,” kata Ida.yudhi

Editor : Redaksi

Berita Terbaru