BIREUEN (Realita)- Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominsa) Kabupaten Bireuen diduga lebih mementingkan menjalin kerja sama dengan media luar Kabupaten Bireuen, ketimbang media lokal sendiri yang terbit di Bireuen.
Ironisnya, salah satu dari dua media terbitan Banda Aceh yang mendapat kesempatan kerja sama penyebarluasan informasi kegiatan pemerintah setempat dengan Diskominsa Bireuen adalah media online milik Juru Bicara (Jubir) Pemkab Bireuen, Muhajir Juli.
Ketimpangan tersebut memicu protes dari pimpinan media lokal setempat yang selama ini banyak menayangkan kegiatan-kegiatan di lingkungan Pemkab Bireuen. Namun, giliran publikasi berbayar dalam bentuk kontrak kerja sama dilakukan dengan media terbitan luar Kabupaten Bireuen.
Suryadi, Pemimpin Redaksi Kabar Bireuen (kabarbireuen.com), sebagai satu-satunya media lokal Bireuen yang telah terverifikasi Dewan Pers, mengaku kecewa dengan kebijakan Diskominsa Bireuen tersebut. Ia merasa, Diskominsa Bireuen mengabaikan Kabar Bireuen yang selama ini telah terjalin hubungan kemitraan dengan baik. .
"Padahal, selama ini Kabar Bireuen banyak memuat berita kegiatan-kegiatan Pemkab Bireuen tanpa meminta bayaran sedikit pun. Namun, begitu ada publikasi berbayar, Kabar Bireuen diabaikan begitu saja dan tidak dilibatkan," ungkap Suryadi kepada wartawan, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku, sudah pernah menanyakan terkait kerja sama tersebut kepada Kadis Kominsa Bireuen, M. Zubair, SH., MH, di Meuligoe Bireuen beberapa waktu lalu. Jawabannya, tahun ini anggaran untuk kerja sama sangat terbatas.
"Yang ada hanya cukup untuk Serambi. Itu memang sudah arahan langsung dari Bupati Bireuen. Untuk media lain, tidak ada anggaran di Diskominsa. Tahun ini ada diplotkan anggaran iklan di Prokopim," sebut M. Zubair saat itu sebagaimana disampaikan Suryadi.
Menurutnya, saat itu ia dapat memaklumi karena M. Zubair beralasan, anggaran yang diplotkan hanya cukup untuk kerja sama dengan Harian Serambi Indonesia. Sementara untuk media lain tidak ada anggarannya.
"Saya bilang sama Pak Zubair saat itu, kalau memang tidak cukup anggarannya tiadak masalah. Cuma saya tegaskan, kalau nanti ketahuan ada media lain yang dimasukkan dalam kerja sama tersebut dan Kabar Bireuen tidak diikutsertakan, saya tidak bisa menerimanya. Ia pastikan, tidak ada kerja sama dengan media lain, selain Serambi," beber mantan wartawan Tabloid Modus Aceh tersebut.
Belakangan diketahuinya, ternyata selain dengan Harian Serambi Indonesia, Diskominsa Bireuen juga membuat ikatan kontrak kerja sama dengan portal Komparatif.ID milik Muhajir Juli. Total anggarannya sebesar Rp80.500.000. Rinciannya, untuk media cetak Harian Serambi Indonesia (PT Aceh Media Grafika) Rp40.500.000 dan media online Komparatif.ID (PT Media Komparatif Indonesia) sebanyak Rp40.000.000.
"Ternyata, Kadis Kominfo Bireuen telah berbohong. Tidak seperti dikatakan pada saya ketika itu, tahun ini Diskominsa Bireuen hanya bekerja sama dengan Serambi," kata Suryadi.
Diakui pemegang sertifikasi Wartawan Utama ini, Diskominsa Bireuen memang pernah bekerja sama dengan Kabar Bireuen tahun lalu (2025). Selain Kabar Bireuen, ada dua media online terbitan luar Kabupaten Bireuen yaitu Aceh Ekspres (terbitan Nagan Raya) dan Realitas Online (terbitan Medan). Selain itu, Harian Serambi Indonesia yang rutin bekerja sama dengan Diskominsa Bireuen.
Total anggaran untuk kerja sama tersebut saat itu sebesar Rp100 juta. Untuk Serambi Indonesua Rp70 juta. Sisanya Rp30 juta dibagi sama untuk tiga media online yang masing-masing hanya kebagian Rp10 juta.
"Ketika itu saya bilang sama Zulkarnaini, (Pranata Humas Ahli Muda Diskominsa Bireuen) yang berurusan dengan kerja sama tersebut, kalau tahun depan (2026) ada anggaran kerja sama lagi, mohon diberitahukan dan media kami diikutsertakan kembali. Kalau pun nanti ada tambahan media lain yang ikut bekerja sama, kami jangan disingkirkan karena Kabar Bireuen media lokal Bireuen baru sekali ini dapat, setelah terverifikasi Dewan Pers. Dia bilang boleh, nanti diberitahukan kalau ada anggarannya," kisah Suryadi.
Setelah ditunggu-tunggu tidak ada pemberitahuan apa-apa hingga kini, sampai kemudian diketahui Diskominsa Bireuen telah mengikat kerja sama dengan kedua media yang beralamat di Kabuoaten Bireuen tersebut.
Makanya, kata Suryadi, kalau kemudian pihak Diskominsa berkilah pihak Kabar Bireuen tidak mengajukan proposal, itu hanya alasan yang dicari-cari. Padahal, kalau memang diberitahukan ada diplotkan anggaran untuk itu, tentu segera disiapkan proposalnya seperti tahun lalu.
"Jika ada niat baik, apa susahnya ia (Zulkarnaini) telepon saya kalau memang ada diplotkan anggaran tahun ini. Biasanya, ia selalu menghubungi saya kalau ada yang perlu diperbaiki menyangkut kerja sama tahun lalu. Lagi pula, bagaimana kami ajukan proposalnya begitu saja, sedangkan Kadis Kominsa sudah bilang sama saya, tahun ini kerja sama hanya dengan Serambi," terang Suryadi.
Begitu juga kalau beralasan pemerataan, sebutnya, itu juga tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, Serambi Indonesia berturut-turut tiap tahun bisa dapat bekerja sama. Begitu juga media lain sebelumnya, ada juga yang berturut-turut bisa diikutsertakan.
Dari kenyataan itulah, Suryadi menduga, Diskominsa Bireuen memang sengaja tidak menghargai Kabar Bireuen yang telah bermitra dan membina hubungan baik selama ini. Seharusnya media lokal Bireuen lebih diprioritaskan, bukan sebaliknya disingkirkan begitu saja dalam kerja sama tersebut dan lebih diutamakan media luar daerah.
"Sepatutnya, Diskominsa Bireuen dapat membina media lokal dalam bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Ini malah media besar terbitan ibu kota provinsi yang lebih diutamakan," sesal peraih Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010 dan 2011 ini.
Saat ditemui di ruang kerjanya Senin (13/4/2026), Kepala Diskominsa Bireuen, M. Zubair, mengonfirmasi bahwa tahun ini pihaknya hanya menggandeng dua media dalam ikatan kerja sama resmi.
"Iya, benar. Tahun ini kami hanya bekerja sama dengan Serambi dan Komparatif.id. Total anggarannya Rp80,5 juta, dengan rincian Rp40,5 juta untuk media cetak Serambi dan Rp40 juta untuk portal online Komparatif.id," ungkap Zubair.
Namun, pernyataan Zubair selanjutnya justru memicu kejanggalan. Ia berdalih tidak mengetahui bahwa Komparatif.id dipimpin oleh Juru Bicara Pemkab Bireuen sendiri.
“Saya tidak tahu kalau itu media milik jubir Pemkab. Sebab, yang datang menandatangani kontrak bukan Muhajir, melainkan Mutia Dewi,” pungkasnya. (mis)
Editor : Redaksi