Perjuangan Warga Terisolasi Di Ponorogo, Terpaksa Bangun Jalan Swadaya Tanpa Sentuhan Pemerintah

PONOROGO (Realita)-Puluhan warga di Lingkungan Wonopuro, RT 11 RW 03, Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kabupaten Ponorogo, kini harus berjuang sendiri untuk membuka akses transportasi mereka. 

Tanpa bantuan dari pemerintah daerah, warga melakukan aksi gotong royong membangun jalan secara swadaya agar wilayah mereka tidak lagi terisolasi, Rabu (06/05/2026).

Akses jalan sepanjang 2 kilometer menuju Dusun Wonopuro selama ini kondisinya sangat memprihatinkan. Meski lebar lahan sudah mencapai 3 meter, jalur tersebut hanya berupa tanah yang sangat licin, sehingga hanya jalan setapak kecil yang bisa dilalui oleh warga.

Kondisi ini diperparah dengan adanya lima titik pembuangan air yang sering membentuk lubang berbahaya bagi pelintas. Sebagai langkah darurat, warga mulai memasang gorong-gorong secara mandiri di titik-titik tersebut.

Ketua RT setempat Parni, mengungkapkan bahwa upaya untuk mendapatkan bantuan pembangunan infrastruktur sudah berulang kali dilakukan. Aspirasi tersebut selalu disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes), namun hingga kini belum membuahkan hasil.

 "Selama ini sudah sering memperjuangkan di Musrenbangdes gitu, tapi ya begini jawabannya (belum ada realisasi)," ujarnya.

Keterisolasian ini berdampak fatal pada urusan kemanusiaan. Salah satu pemicu gerakan swadaya ini adalah peristiwa memilukan saat seorang warga yang hendak melahirkan terpaksa harus ditandu karena kendaraan tidak bisa menjangkau lokasi.

Proses pembangunan jalan ini pun dilakukan dengan cara yang sangat berat. Karena kendaraan roda empat tidak bisa naik ke atas, seluruh material bangunan harus dibawa secara manual.

"Dipanggul, Mas. Gorong-gorong itu dibelah jadi dua, kemudian dipanggul. Satu belahan itu butuh empat orang untuk naik ke atas," jelasnya.

Bahkan, tidak jarang material seperti gorong-gorong tersebut pecah sebelum sampai di lokasi akibat medan yang sangat sulit.

Sulitnya akses mobilitas ini berdampak langsung pada kesejahteraan 98 jiwa (40 KK) yang tinggal di Wonopuro. Secara ekonomi, mayoritas warga masuk dalam kategori desil satu atau kemiskinan ekstrem.

Banyak warga yang kesulitan memasarkan hasil bumi seperti nangka, durian, hingga alpukat karena ongkos angkut yang tidak sebanding. Bahkan, kondisi sanitasi di wilayah tersebut masih minim; dari 35 rumah, hanya 7 rumah yang memiliki fasilitas toilet, sementara sisanya masih berlantaikan tanah.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo tidak menutup mata atas kondisi ini. Mengingat sebagian akses jalan melintasi kawasan hutan, warga mendesak adanya duduk bersama antara pemerintah daerah dengan pihak Perhutani.

Saat ini, warga masih membutuhkan dukungan berupa material, terutama pasir, untuk melanjutkan pembangunan dua titik jalan yang sedang dikerjakan. Setiap titik setidaknya membutuhkan 14 sak semen dan satu dump truck pasir agar jalan bisa layak dilalui.

"Harapannya pemerintah juga peduli. Karena membangun jalan 2 kilometer ini butuh biaya besar, butuh kehadiran pemerintah untuk membangun jalan itu, bukan sekadar memperbaiki karena memang belum pernah dibangun," pungkasnya. znl

Editor : Redaksi

Berita Terbaru