JEMBER (Realita) - Pemerintah Kabupaten Jember mendapat angin segar dalam upaya menyelesaikan persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah daerah.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan, Jember akan menerima investasi senilai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun untuk pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern yang ditargetkan mulai dibangun pada 2026.
Investasi tersebut diperoleh melalui dukungan pemerintah pusat dan akan menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mampu menjawab persoalan persampahan yang selama ini membayangi Kabupaten Jember. Proses pembangunan fasilitas pengolahan sampah itu ditargetkan selesai pada April 2028.
Menurut Gus Fawait, keberadaan fasilitas tersebut tidak hanya mampu mengatasi sampah di Jember, tetapi juga berpotensi membantu daerah lain di sekitarnya.
“Alhamdulillah, tahun 2026 ini akan ada investasi kurang lebih Rp1,5 sampai Rp2 triliun untuk penanganan sampah. Insyaallah proses pembangunannya dimulai tahun 2026 dan selesai sekitar April 2028. Kalau ini sudah berjalan dengan baik, maka persampahan di Jember akan sangat terselesaikan,” ujar Fawait, usai rapat Paripurna DPRD Jember, Sabtu (27/06/2026).
Gus Fawait menjelaskan, investasi tersebut merupakan hasil dukungan dan fasilitasi pemerintah pusat. Program penanganan sampah menjadi salah satu prioritas nasional sehingga Jember memperoleh kesempatan menjadi daerah penerima proyek pengelolaan sampah terpadu.
Ia juga menyebut dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Dalam Negeri dan anggota DPR RI dari Fraksi PKB, turut mempercepat proses realisasi investasi tersebut. Selain itu, Pemkab Jember masih mengejar program tambahan dari pemerintah pusat yang berkaitan dengan pengelolaan sampah untuk tahun 2027.
Gus Fawait menegaskan, proyek tersebut merupakan kabar baik bagi masyarakat Jember karena tidak semua daerah mendapatkan kesempatan serupa.
“Tidak semua kabupaten mendapatkan ini. Hanya kurang lebih 20 kabupaten se-Indonesia yang mendapatkan kepercayaan untuk pengelolaan sampah yang dijembatani oleh pemerintah pusat. Mudah-mudahan ini bisa menyelesaikan persampahan,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Fawait mengingatkan bahwa persoalan sampah di Jember bukanlah masalah yang muncul dalam waktu singkat. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan akumulasi persoalan yang sudah berlangsung sejak lama, terutama setelah adanya kebijakan pemerintah pusat terkait penghentian sistem pembuangan sampah secara open dumping.
Ia mengungkapkan, sejak adanya surat pemerintah pusat pada 2008 yang mewajibkan penutupan sistem open dumping dengan batas waktu hingga 2013, belum ada langkah signifikan yang dilakukan, hingga akhirnya pada 2025 muncul ancaman konsekuensi hukum bagi daerah yang belum memenuhi ketentuan tersebut.
Karena itu, Pemkab Jember memilih fokus mencari solusi daripada saling menyalahkan atas persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Saya sebagai bupati bertanggung jawab. Maka kita ambil langkah-langkah seperti kemarin dan hari ini ditambahi adanya investasi yang besar. Kita tidak dalam rangka menyalahkan siapa atau melempar tanggung jawab, tetapi bagaimana persoalan ini bisa segera terselesaikan,” tegasnya.
Meski demikian, Fawait menilai keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada investasi dan teknologi. Partisipasi masyarakat tetap menjadi faktor utama agar sistem yang dibangun nantinya dapat berjalan optimal.
Ia meminta masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah. Selain itu, dunia usaha, sekolah, rumah sakit, puskesmas, dan berbagai institusi lainnya diharapkan tetap menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri sembari menunggu fasilitas baru beroperasi.
Menurutnya, dampak investasi tersebut juga tidak hanya terbatas pada sektor lingkungan. Kehadiran fasilitas pengolahan sampah modern diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.
“Dengan masuknya investasi Rp1,5 sampai Rp2 triliun itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita dan membuka lapangan pekerjaan. Bahkan nanti bisa menjadi wisata pendidikan karena pengelolaannya sangat ramah lingkungan dan menggunakan teknologi yang canggih,” pungkas Gus Fawait.
Editor : Redaksi