SIDOARJO – Nasib Pasar Induk Puspa Agro di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, makin tak jelas jluntrungannya.
Di tengah kondisi pasar yang masih terlihat sepi, dipenuhi kios tutup, dan sejumlah fasilitas yang mulai rusak, DPRD Provinsi Jawa Timur justru bilang bahwa kinerja Puspa Agro membaik.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas perdagangan belum kembali hidup. Banyak kios tertutup, lapak kosong, lorong pasar lengang, sementara sebagian bangunan mulai mengalami kerusakan pada plafon, cat, hingga fasilitas umum yang kurang terawat. Bahkan banyak sampah menumpuk, pemulung yang sibuk bekerja di sana, hingga toilet yang kotor.
Sejumlah pedagang mengaku aktivitas perdagangan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
"Dulu ramai, sekarang banyak lapak kosong. Pembeli juga makin sedikit," ujar salah seorang pedagang yang masih bertahan.
Kondisi tersebut memperkuat kesan bahwa pasar yang dibangun dengan harapan menjadi sentra perdagangan hasil pertanian terbesar di Jawa Timur itu belum mampu menjalankan fungsi strategisnya sebagai pusat distribusi pangan regional.
"Tiap hari ya sepi begini mas," kata seorang tukang parkir di sana.
Di tengah kenyataan tersebut, Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur Adam Rusydi justru menilai manajemen Puspa Agro mulai menunjukkan perbaikan.
Saat dikonfirmasi pada, Selasa (6/6/2026), Adam mengatakan selama tiga tahun terakhir Puspa Agro telah mampu memberikan laba kepada PT Jatim Grha Utama sekaligus mulai mencicil kewajiban utang yang ditinggalkan manajemen sebelumnya.
"Kondisi saat ini adalah bagaimana Puspa Agro melakukan perbaikan kinerja. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Puspa Agro sudah mulai memberikan laba kepada PT JGU, dan mulai menyicil hutang-hutang yang dilakukan oleh direksi lama," katanya.
Menurut Adam, kepemimpinan Direktur Utama Muhammadiah Agus Muslim mulai menunjukkan peningkatan performa perusahaan.
"Secara kinerja ada peningkatan. Hari ini kami mendukung Puspa Agro sebagai BUMD pangan yang nantinya menjadi katalisator pangan di Jawa Timur," ujarnya.
Komisi C juga mendorong agar Puspa Agro lebih terintegrasi dengan kebutuhan pangan daerah, termasuk menjalin kerja sama penyediaan bahan pangan dengan sejumlah rumah sakit di Jawa Timur.
Adam mengakui bahwa salah satu persoalan utama Puspa Agro selama ini adalah akses menuju kawasan pasar.
"Selama ini kendala Puspa Agro adalah pada akses. Pemerintah sudah membangun infrastruktur untuk mempermudah akses menuju kawasan Puspa Agro," jelasnya.
Komisi C berjanji akan mengawal hasil rekomendasi Pansus melalui pengawasan berkala terhadap seluruh BUMD.
"Kami akan meminta laporan kinerja secara berkala setiap triwulan tentang bagaimana kinerja BUMD dan target yang mereka capai."
Selain itu, DPRD juga tengah menggodok pengembangan bisnis peternakan sebagai bagian dari penguatan fungsi Puspa Agro sebagai BUMD pangan.
"Kami akan terus melakukan fungsi controlling agar Puspa Agro dengan investasi sebesar itu benar-benar bisa berjalan dengan baik," tegas Adam.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai tindak lanjut hasil kerja Pansus BUMD, Ketua Pansus BUMD DPRD Jawa Timur Agung Mulyono pada Senin (2/6/2026) memilih tidak memberikan penjelasan lebih jauh.
Menurutnya, tugas Panitia Khusus telah selesai dan pembahasan kini menjadi kewenangan masing-masing fraksi di DPRD Jawa Timur.
"Sudah menjadi ranah fraksi masing-masing. Pansus sudah selesai," ujarnya singkat.tyan
Editor : Redaksi