MALANG – Selama lebih dari 170 tahun, ikan lempuk (Gobiopterus brachypterus) dari Ranu Grati, Kabupaten Pasuruan, dikenal sebagai spesies yang sama dengan populasi ikan lempuk yang dilaporkan tersebar di berbagai negara Asia. Namun, penelitian terbaru dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) mengungkap fakta yang berbeda. Melalui analisis DNA, tim peneliti menemukan bahwa ikan lempuk dari Ranu Grati memiliki karakter genetik yang sangat unik sehingga memperkuat dugaan sebagai populasi asli yang berbeda dari populasi lain yang selama ini menggunakan nama spesies yang sama.
Penelitian tersebut dipimpin oleh dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK UB, Dr. Septi Anitasari, S.Pi., M.P., bersama Prof. Dr. Ir. Diana Arfiati, M.S. dan Dr. Abdul Rahem Faqih, S.Pi., M.Si., dengan dukungan tim peneliti Akhsan Fikrillah Paricahya, Prof. Susilo, serta Dr. Agung Pramana Warih Marhendra. Penelitian ini menjadi salah satu kontribusi FPIK UB dalam mengungkap kekayaan biodiversitas ikan air tawar Indonesia melalui pendekatan genetika molekuler.
Dr. Septi Anitasari menjelaskan bahwa penelitian dilakukan untuk mengonfirmasi identitas spesies ikan lempuk yang pertama kali dideskripsikan dari Ranu Grati lebih dari satu abad lalu. Selama ini, identifikasi spesies tersebut umumnya didasarkan pada kemiripan morfologi, sementara data genetik dari lokasi asal spesies belum pernah dikaji secara komprehensif.
"Selama ini identifikasi ikan lempuk lebih banyak didasarkan pada kemiripan morfologi. Setelah kami membandingkan DNA ikan lempuk dari Ranu Grati dengan berbagai data genetik internasional, hasilnya menunjukkan bahwa populasi Ranu Grati memiliki identitas genetik yang sangat berbeda. Temuan ini mengindikasikan bahwa telah terjadi dugaan salah identifikasi pada beberapa populasi yang selama ini menggunakan nama spesies yang sama," jelas Septi.
Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan penanda gen Cytochrome Oxidase I (COI) atau metode DNA barcoding, yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi spesies berdasarkan informasi genetik. Hasil analisis filogenetik, genetic p-distance, dan haplotype network menunjukkan bahwa populasi ikan lempuk dari Ranu Grati memiliki jarak genetik lebih dari 21 persen dibandingkan populasi yang dilaporkan berasal dari India maupun Brunei.
Perbedaan genetik yang sangat besar tersebut menunjukkan adanya hubungan evolusioner yang jauh dan memperkuat dugaan bahwa populasi ikan lempuk di Ranu Grati bukan merupakan spesies yang sama dengan populasi yang selama ini dilaporkan dari negara lain. Hingga saat ini, penelitian juga belum menemukan bukti genetik yang mengonfirmasi keberadaan Gobiopterus brachypterus di luar Ranu Grati, sehingga memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat asli sekaligus pusat keberadaan spesies ini.
Menurut Prof. Diana Arfiati, hasil penelitian tersebut memiliki arti strategis dalam pengelolaan sumber daya perairan Indonesia.
"Penelitian berbasis genetika memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat dibandingkan identifikasi morfologi semata. Informasi ini sangat penting sebagai acuan dalam penyusunan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya ikan agar spesies lokal yang memiliki nilai penting dapat terlindungi," ujar Prof. Diana.
Selain mengungkap identitas genetik, penelitian ini juga menemukan fakta penting mengenai kondisi populasi ikan lempuk di Ranu Grati. Seluruh sampel yang dianalisis hanya membentuk satu haplotipe atau satu variasi genetik, yang menunjukkan tingkat keragaman genetik sangat rendah. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kerentanan spesies terhadap perubahan lingkungan, pencemaran, penyakit, maupun tekanan penangkapan yang berlebihan.
Sementara itu, Dr. Abdul Rahem Faqih menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi genetika menjadi salah satu kunci dalam mengungkap kekayaan biodiversitas perairan Indonesia yang selama ini belum sepenuhnya teridentifikasi.
"Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman ikan air tawar tertinggi di dunia. Pendekatan genetika memungkinkan identifikasi spesies dilakukan secara lebih akurat sehingga menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan konservasi maupun pengelolaan sumber daya perikanan berbasis bukti ilmiah," jelasnya.
Temuan ini tidak hanya memperkuat posisi Ranu Grati sebagai habitat penting ikan lempuk, tetapi juga membuka peluang untuk meninjau kembali klasifikasi beberapa spesies dalam genus Gobiopterus yang selama ini diduga mengalami kesalahan identifikasi akibat kemiripan karakter morfologi. Penelitian lanjutan mengenai evolusi, biogeografi, dan konservasi ikan air tawar Indonesia pun diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memperkaya data biodiversitas nasional.
Bagi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Universitas Brawijaya, penelitian ini menjadi bukti nyata kontribusi sivitas akademika dalam menghasilkan pengetahuan baru yang mendukung pengelolaan sumber daya perairan berbasis sains. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun strategi konservasi Ranu Grati sebagai habitat penting ikan lempuk sekaligus menjaga keberlanjutan biodiversitas perairan darat Indonesia.
Komitmen FPIK Universitas Brawijaya dalam mengembangkan riset berbasis inovasi ini sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan keanekaragaman hayati perairan, SDG 15 (Life on Land) melalui konservasi spesies asli dan ekosistem, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi genetika untuk riset biodiversitas, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi multidisiplin dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi sumber daya alam.
Editor : Redaksi