Dosen Ilmu Kelautan FPIK UB Tingkatkan Standar Keselamatan Wisata Bahari di Pantai Wonogoro 

MALANG – Setiap tahunnya, lebih dari 236 ribu orang di dunia meninggal akibat tenggelam, menjadikannya salah satu penyebab kematian yang paling banyak terjadi namun sering kali dapat dicegah. Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan di perairan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 25 Juli sebagai World Drowning Prevention Day, sebuah kampanye global yang dipimpin oleh World Health Organization (WHO) guna mendorong upaya pencegahan tenggelam melalui edukasi, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penyediaan sarana keselamatan. 

Semangat tersebut diwujudkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Brawijaya (UB) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Penguatan Standar Keselamatan dan Manajemen Risiko dalam Paket Wisata Bahari Berbasis Masyarakat" yang diselenggarakan di Pantai Wonogoro, Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang, pada 16 Juli 2026. 

Kegiatan yang melibatkan sejumlah dosen Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB bersama BUMDes Samudera Emas ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola wisata dan kelompok nelayan dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan air, sekaligus memperkuat budaya keselamatan di kawasan wisata bahari Pantai Selatan Malang yang dikenal memiliki karakteristik gelombang dan arus yang kuat. 

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB, Prof. Ade Yamindago, menjelaskan bahwa keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan wisata bahari yang berkelanjutan. Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisata harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi kondisi darurat di kawasan pesisir. 

"Wisata bahari tidak hanya berbicara mengenai keindahan alam, tetapi juga bagaimana memastikan setiap aktivitas dilakukan secara aman. Melalui pelatihan ini, kami ingin meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu melakukan pertolongan pertama secara cepat dan tepat ketika terjadi kecelakaan di perairan," ujarnya. 

Pelatihan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk memberikan materi mengenai penyebab kecelakaan akibat tenggelam, strategi pencegahan, prinsip keselamatan saat melakukan penyelamatan korban, hingga teknik first aid dan demonstrasi pertolongan pertama pada korban tenggelam. 

 

Selain peningkatan kapasitas masyarakat, tim pengabdian juga menyerahkan berbagai peralatan keselamatan berupa life jacket, ring buoy fiber, kotak P3K, dan tandu lipat kepada pengelola Pantai Wonogoro. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan kawasan wisata dalam menghadapi kondisi darurat sekaligus mendukung pelayanan wisata yang lebih aman bagi pengunjung. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kompetensi keselamatan di lingkungan akademik telah menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa, mulai dari mata kuliah renang pada semester awal, widya selam pada semester berikutnya, hingga selam keahlian yang membekali mahasiswa dengan sertifikasi penyelaman sebagai bekal profesional di bidang kelautan. 

Melalui pembelajaran tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami aspek oseanografi dan ekologi laut, tetapi juga memiliki kemampuan dasar keselamatan perairan yang dapat diterapkan saat melakukan penelitian, eksplorasi, maupun pendampingan masyarakat pesisir. 

Kolaborasi dengan BUMDes Samudera Emas juga menjadi langkah strategis dalam membangun pengelolaan wisata bahari berbasis masyarakat yang lebih profesional. Penguatan kapasitas pengelola lokal diharapkan mampu meningkatkan rasa aman wisatawan sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan destinasi wisata yang mengedepankan aspek keselamatan. 

Bagi FPIK Universitas Brawijaya, kegiatan ini menunjukkan bahwa keselamatan di kawasan pesisir bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pengelola wisata, tetapi juga merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Momentum World Drowning Prevention Day menjadi pengingat bahwa setiap upaya peningkatan literasi keselamatan, sekecil apa pun, dapat berkontribusi dalam menyelamatkan nyawa. 

Pengabdian kepada masyarakat ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam pertolongan pertama pada kecelakaan air, SDG 4 (Quality Education) melalui diseminasi pengetahuan berbasis keilmuan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kualitas dan keamanan wisata bahari berbasis masyarakat, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan aktivitas pesisir yang bertanggung jawab, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan BUMDes Samudera Emas dalam mewujudkan kawasan wisata bahari yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. 

 
 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru