Diduga Ditendang dan Dipukul di Asrama, Siswa Sekolah Rakyat Sempat Dirawat di Puskesmas

JEMBER (Realita) - Seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Jember diduga menjadi korban kekerasan fisik di lingkungan asrama. Korban disebut dipukul hingga ditendang di bagian dada dan punggung. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami lebam di dada kiri dan sempat menjalani perawatan di puskesmas.

Kasus ini mencuat setelah keluarga korban mendatangi kepolisian pada Senin untuk melaporkan dugaan penganiayaan tersebut. Keluarga meminta perkara itu diproses secara hukum agar kejadian serupa tidak terulang.

Paman korban, BD, menuturkan, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu malam, sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 WIB, di dalam asrama. Dugaan kekerasan itu disebut bermula ketika seorang siswa kedapatan merokok oleh pembimbing kedisiplinan yang disebut merupakan mahasiswa.

Menurut penuturan keluarga, siswa yang kedapatan merokok itu diduga ditempeleng. Seorang siswa lain kemudian berusaha membela temannya, tetapi justru ikut terkena sasaran. Korban yang belakangan ikut membela juga diduga mengalami kekerasan fisik dengan dampak lebih parah.

“Ponakan saya dipukul terus ditendang juga di bagian dada sama di bagian punggung belakang,” tutur BD.

BD mengatakan, keluarga mengetahui kejadian tersebut setelah dihubungi pihak wali asrama dan wali asuh. Setelah mendapat informasi, korban sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Dalam keterangannya, keluarga menyebut terdapat lebam di bagian dada kiri korban.

Keluarga kemudian memutuskan membawa persoalan ini ke ranah hukum. Basuki menegaskan, langkah tersebut diambil agar dugaan kekerasan terhadap siswa dapat ditangani secara serius dan tidak berhenti pada penyelesaian internal.

“Kalau harapannya, ya diproses secara hukum sesuai hukum,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan, pihak sekolah disebut sempat berkomunikasi dengan keluarga dan meminta agar korban tidak menjalani visum maupun melaporkan kejadian tersebut. Namun, keluarga memilih tetap melanjutkan proses hukum.

Bagi BD, pembinaan kedisiplinan seharusnya dilakukan melalui pendidikan dan pengarahan, bukan tindakan fisik yang berpotensi melukai siswa. Ia menilai, pihak yang diberi tanggung jawab membimbing siswa semestinya mampu memberikan contoh dalam menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

“Bukan menghajar, tapi mengajar dan membimbing,” ujarnya.

BD menyebut, insiden tersebut terjadi ketika tidak ada kegiatan sekolah yang sedang berlangsung. Peristiwa itu berlangsung di dalam asrama pada malam hari.

Keluarga menyatakan akan mengikuti proses hukum yang berjalan dan menyerahkan penanganan perkara kepada kepolisian. Mereka berharap dugaan penganiayaan tersebut dapat diusut secara objektif sehingga fakta kejadian dan pihak yang bertanggung jawab bisa terungkap.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Jember, Kartika Sari Dewi, saat dikonfirmasi terkait dugaan penganiayaan tersebut menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat memberikan pernyataan kepada wartawan.rdy

Editor : Redaksi

Berita Terbaru