MALANG – Transformasi sektor perikanan tidak lagi hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi juga pemanfaatan teknologi, keberlanjutan sumber daya, dan penguatan daya saing global. Untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan tersebut, Program Studi Agrobisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Brawijaya (UB), memperkuat kolaborasi internasional melalui Program Adjunct Professor 2026 bersama Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Malaysia.
Program ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Mahirah Kamaludin, akademisi dari Faculty of Business, Economics and Social Development, Universiti Malaysia Terengganu, yang memiliki kepakaran di bidang ekonomi lingkungan dan sumber daya alam, valuasi ekonomi, kebijakan lingkungan, energi terbarukan, serta perikanan berkelanjutan. Rangkaian kegiatan yang berlangsung secara daring pada 4 dan 25 Juni 2026 tidak hanya menghadirkan kuliah internasional, tetapi juga memperkuat kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah, serta peningkatan mutu jurnal melalui keterlibatan akademisi internasional sebagai reviewer.
Pada sesi pertama bertajuk "Renewable Resources and the Bio-Economy Model", mahasiswa diajak memahami bahwa sumber daya perikanan merupakan sumber daya terbarukan yang hanya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila tingkat eksploitasi tidak melampaui kemampuan populasi untuk pulih.
Melalui pendekatan bioekonomi, Assoc. Prof. Dr. Mahirah menjelaskan keterkaitan antara aspek ekologi, perilaku ekonomi pelaku perikanan, dan kebijakan pengelolaan sumber daya. Mahasiswa mempelajari bagaimana keseimbangan antara manfaat ekonomi, kapasitas stok ikan, serta tata kelola kelembagaan menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan perikanan yang berkelanjutan.
Selain membahas konsep bioekonomi, peserta juga diajak menganalisis tantangan pengelolaan perikanan modern, mulai dari persoalan akses terbuka (open access), efisiensi usaha penangkapan, hingga pentingnya keterlibatan nelayan dalam penyusunan kebijakan. Pendekatan tersebut memberikan perspektif bahwa keberhasilan pengelolaan perikanan tidak hanya bergantung pada pembatasan eksploitasi, tetapi juga pada terciptanya manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat pesisir.
Sementara itu, sesi kedua mengangkat tema "From Traditional to Smart Fisheries: Embracing Industry 4.0", yang membahas transformasi sektor perikanan menuju sistem berbasis teknologi digital. Mahasiswa diperkenalkan pada berbagai inovasi yang mulai diterapkan di industri perikanan global, seperti pemanfaatan Global Positioning System (GPS), drone, robotika, blockchain, big data, hingga komputasi awan (cloud computing) untuk meningkatkan efisiensi produksi, ketertelusuran (traceability) produk, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Tidak hanya menyoroti peluang, materi juga membahas tantangan implementasi Industri 4.0, seperti kesenjangan literasi digital, keamanan siber, perlindungan data, hingga dampak otomatisasi terhadap dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk membangun kompetensi masa depan, mulai dari analisis data, pemanfaatan Geographic Information System (GIS), kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga kemampuan berpikir kritis dan adaptif dalam menghadapi perubahan teknologi.
Ketua Program Studi Agrobisnis Perikanan FPIK UB, Dr. Candra Adi Intyas, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa Program Adjunct Professor tidak hanya menghadirkan dosen tamu internasional, tetapi juga menjadi sarana membangun kolaborasi akademik yang berkelanjutan.
"Melalui program ini, mahasiswa memperoleh perspektif internasional secara langsung, sementara dosen dapat memperkuat kerja sama penelitian, publikasi ilmiah, dan penjaminan mutu jurnal. Kami berharap kolaborasi ini terus berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, riset, maupun pengabdian kepada masyarakat," jelasnya.
Selain kegiatan pembelajaran, Program Adjunct Professor 2026 juga menghasilkan kolaborasi penyusunan manuskrip ilmiah bersama antara akademisi FPIK UB dan UMT yang ditargetkan untuk dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus. Di sisi lain, Assoc. Prof. Dr. Mahirah turut berkontribusi sebagai reviewer jurnal yang berafiliasi dengan Universitas Brawijaya, sehingga memperkuat kualitas proses editorial sekaligus memperluas jejaring akademik internasional.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen FPIK Universitas Brawijaya dalam memperluas jejaring global, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendorong lahirnya riset yang mampu menjawab tantangan pembangunan perikanan berkelanjutan di tingkat internasional. Melalui sinergi dengan Universiti Malaysia Terengganu, mahasiswa dan dosen memperoleh ruang untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan penelitian kolaboratif, serta membangun solusi inovatif bagi pengelolaan sumber daya perikanan di kawasan Asia Tenggara.
Program Adjunct Professor ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pendidikan tinggi berstandar internasional, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang adaptif terhadap transformasi industri, SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan kapasitas dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi akademik lintas negara yang mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Editor : Redaksi