SURABAYA — Peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini tak lagi sekadar ruang kelas untuk mentransfer ilmu, melainkan harus bertransformasi menjadi inkubator bisnis dan inovasi teknologi.
Transisi ini dinilai krusial untuk menjawab agenda Sustainable Development Goals (SDGs), tidak hanya pada Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), tetapi juga Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Merespons urgensi tersebut, gagasan inovatif yang diusung dalam topik "Dari Pembelajaran ke Produksi: Desain model product-based learning sebagai model edutechnopreneurship di SMK", dinilai menjadi terobosan strategis untuk merevitalisasi ekosistem pendidikan vokasi di Indonesia.
Pakar Desain Instruksional yang juga menjabat sebagai Kepala Unit Penjamin Mutu S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Syaiputra W.M. Diningrat, M.Pd., menjelaskan bahwa pergeseran paradigma dari 'pembelajaran murni' menuju 'produksi' adalah kunci utama kemajuan SMK.
Menurutnya, sekolah kejuruan harus secara masif mengadopsi edutechnopreneurship—sebuah ekosistem terintegrasi yang menggabungkan pendidikan (education), teknologi (technology), dan kewirausahaan (entrepreneurship).
"Melalui desain model product-based learning, siswa SMK tidak lagi diposisikan sebagai konsumen informasi yang pasif. Mereka dilatih secara komprehensif untuk merancang, memvalidasi, hingga memproduksi barang atau jasa yang memiliki nilai komersial. Ini adalah langkah konkret pencapaian SDG 9, di mana ruang kelas berfungsi sebagai miniatur industri yang mendorong budaya inovasi teknologi sejak dini," papar Dr. Syaiputra.
Katalisator Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan Layak (SDG 8)
Lebih jauh, integrasi edutechnopreneurship ini diyakini akan memberikan dampak ganda (multiplier effect) terhadap perekonomian, selaras dengan target SDG 8. Selain mengasah keterampilan teknis yang spesifik (hard skills), model ini secara organik membentuk ketangguhan mental, daya cipta, dan insting bisnis para siswa melalui kolaborasi berbasis proyek.
Dengan kurikulum yang berorientasi pada penciptaan produk, lulusan SMK tidak hanya dipersiapkan untuk sekadar mengisi lowongan pekerjaan, tetapi didorong untuk menjadi technopreneur muda yang tangguh.
"Jika kita benar-benar berkomitmen pada pencapaian multi-pilar SDGs, maka pendidikan kejuruan kita harus memiliki output yang terukur secara ekonomi dan sosial. Desain product-based learning memastikan bahwa setiap proses belajar di bengkel atau laboratorium bermuara pada inovasi yang siap diserap pasar, membuka lapangan kerja baru, dan pada akhirnya mengentaskan pengangguran," tutupnya.
Editor : Redaksi