Kampus UNAIR Serukan Surabaya Bebas Asap Rokok, Kisah Ike Jadi Pengingat

SURABAYA (Realita)— Udara bersih menjadi bagian penting dari kualitas hidup warga kota. Namun, bagi sebagian orang, menghirup asap rokok di ruang publik masih menjadi persoalan sehari-hari. Tak hanya mengganggu kenyamanan, paparan asap rokok juga dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mereka yang tidak merokok.

Pesan itu menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Diseminasi yang digelar Research Group on Tobacco Control (RGTC) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) di Gedung Kuliah Bersama Kampus C UNAIR, Surabaya, Rabu (6/8/2026).

Mengangkat tema “Evidence to Practice: Penguatan Pengendalian Tembakau untuk Kebijakan Kesehatan Berbasis Bukti”, kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 250 peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, akademisi, sekolah, komunitas, organisasi masyarakat hingga kader dan Bunda PAUD.

Seminar itu tidak sekadar membicarakan bahaya rokok. RGTC FKM UNAIR membawa sejumlah hasil penelitian yang mencoba melihat persoalan pengendalian tembakau dari berbagai sisi.

Di antaranya evaluasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), penelitian mengenai iklan, promosi, sponsorship dan penjualan produk tembakau di 12 kabupaten/kota di Jawa Timur, pengukuran kualitas udara untuk melihat kepatuhan KTR, hingga kajian mengenai beban penyakit yang ditimbulkan konsumsi tembakau.

Ketua RGTC FKM UNAIR, Prof. Santi Martini, dr., M.Kes, mengatakan temuan penelitian menunjukkan bahwa pengendalian tembakau tidak bisa dilakukan melalui satu kebijakan saja.

Menurut dia, diperlukan langkah yang saling terhubung, mulai dari memastikan KTR berjalan, memantau kualitas udara, mengawasi promosi produk tembakau, membatasi akses anak terhadap rokok, hingga memperkuat kebijakan harga dan cukai.

“Bukti yang dihasilkan dari tingkat lokal dan regional menjadi penting sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan, mengidentifikasi kesenjangan implementasi, serta merumuskan intervensi yang lebih tepat sasaran,” ujar Santi.

Ia berharap hasil penelitian yang dipaparkan tidak berhenti sebagai bahan diskusi akademis. Temuan tersebut, kata Santi, perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan sistem pengawasan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Melalui seminar ini, RGTC FKM UNAIR mendorong penguatan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan penanggung jawab KTR di tujuh sarana serta seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung penurunan prevalensi merokok melalui program KTR dan pengendalian tembakau,” tegasnya.

Bagi Surabaya, upaya tersebut juga menjadi bagian dari agenda menciptakan kota yang lebih ramah bagi anak dan masyarakat. Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebut pemerintah kota telah menjalankan sejumlah program pengendalian tembakau, termasuk edukasi kepada generasi muda.

Layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan konseling juga tersedia di seluruh puskesmas di Surabaya.

“Kota Surabaya telah melakukan berbagai upaya untuk pengendalian tembakau, salah satunya dengan sosialisasi kepada generasi muda. Seluruh puskesmas di Surabaya menyediakan layanan Upaya Berhenti Merokok dan konseling,” katanya.

Konsep kota cerdas atau Smart City juga diarahkan untuk mendorong terbentuknya kampung bebas asap rokok. Program tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Surabaya sebagai kota layak anak sekaligus kota yang lebih sehat dan nyaman bagi warganya.

Advertorial

Persoalan lain yang ikut mendapat perhatian adalah rokok elektronik. Dalam sesi pembahasan mengenai vape, BNN Kota Surabaya menekankan pentingnya pencegahan sejak seseorang mulai mengenal produk tembakau maupun nikotin.

Risiko adiksi menjadi perhatian karena penggunaan produk rokok elektronik semakin dekat dengan generasi muda. BNN juga menyoroti temuan terkait kandungan zat adiktif pada sejumlah produk yang beredar.

“Pembahasan ini menjadi semakin relevan dalam konteks perlindungan generasi muda dari risiko adiksi nikotin dan penggunaan produk rokok elektronik,” tandas perwakilan BNN Kota Surabaya.

Namun, dari seluruh paparan akademis tersebut, kisah Ike Wijaya, 52 tahun, menjadi salah satu pengingat paling personal mengenai dampak asap rokok.

Warga Surabaya yang hadir sebagai narasumber dari Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) Surabaya itu mengisahkan perjuangannya setelah didiagnosis kanker laring stadium empat. Ia menyebut penyakit tersebut berkaitan dengan paparan asap rokok di lingkungan tempat kerjanya.

Operasi terhadap pita suara membuat Ike tidak lagi dapat berbicara dengan suara normal seperti sebelumnya.

“Asap rokok membahayakan tidak saja bagi perokok aktif, tapi juga masyarakat sekitar seperti saya. Oleh karena itu, saya ingin mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk lebih menindak tegas masyarakat yang melanggar perda dengan merokok sembarangan serta mendukung penerapan KTR,” ujar Ike.

Kisah Ike menjadi gambaran bahwa persoalan rokok tidak berhenti pada pilihan seseorang untuk merokok atau tidak. Asap yang dilepaskan dapat ikut terhirup oleh orang lain yang berada di lingkungan yang sama.

Seminar tersebut kemudian ditutup dengan penandatanganan dukungan terhadap Kawasan Tanpa Rokok di Surabaya. Penandatanganan itu menjadi simbol komitmen lintas pihak untuk memperkuat penerapan KTR sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih sehat.

Melalui semangat “Evidence to Practice”, RGTC FKM UNAIR berharap hasil penelitian dapat menjadi pijakan nyata bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat pengendalian tembakau, terutama untuk melindungi anak-anak dan generasi muda dari paparan asap rokok maupun risiko kecanduan nikotin.yudhi

 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

PSI Tegas Tolak Budi Arie

JAKARTA (Realita)- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menegaskan tidak akan menerima Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi sebagai kader. Penolakan tersebut …